Langsung ke konten utama

#Pumping Series: Tempat Memerah ASI di Kantor

tempat memerah asi di kantor

Dulu saat akan masuk kerja ke kantor baru setelah melahirkan saya banyak cari-cari informasi tentang memerah air susu ibu (ASI) di kantor. Salah satunya tentang dimana biasanya ibu-ibu perah memompa ASI. Masalahnya saya tidak terbayang kantor baru saya akan seperti apa dan apakah ada ruang laktasi atau tidak. Selain untuk persiapan mental juga untuk mempersiapkan perlengkapan yang harus dibawa.

Selama 18 bulan menjadi ibu perah, tempat mempompa ASI saya ternyata cukup beragam:

1. Toilet
Awal saya masuk, kantor saya masih dalam tahap pembangunan. Tidak ada ruang kosong apalagi ruang laktasi. Untunglah toiletnya lumayan bersih. Jadi selama beberapa bulan pertama saya dan seorang rekan kerja rutin memerah ASI di toilet. Alhamdulillah Ru, anak saya, tidak apa-apa.

Saya selalu cuci tangan dulu bersih-bersih sebelum masuk bilik, kemudian menutup dan mengunci pintu dengan siku, dan menutup dudukan kloset dengan kaki. Saya pun mengusahakan ga pegang apa-apa lagi selain alat pumping.

2. Ruang Laktasi
Tiga hari pertama kerja saya sempat merasakan memompa di ruang laktasi. Kebetulan kantor saya mengadakan pengenalan kantor di gedung lain. Ruang laktasi di gedung ini cukup rapi tapi tidak dilengkapi lemari pendingin. Sayangnya saya kemudian harus mulai bekerja di tempat lain. Bye bye ruang laktasi.

Untunglah setelah beberapa bulan, pembangunan kantor saya selesai. Awalnya tidak ada ruang laktasi. Bersyukur kepala HR di kantor ini adalah seorang ibu yang pro ASI. Akhirnya dibuatlah ruang laktasi digabung ruang P3K. Desainnya seadanya, padahal saya yang desain. Haha. Maklum pegawai baru masih kikuk.

Jadi ruangan ini bisa dibagi dua dengan tirai pemisah di tengah-tengahnya. Di ruang P3K terdapat tempat tidur, sementara ruang laktasi terdapat sofa 2 seater. Salah sih saya pilih sofa panjang, efeknya orang yang ga sakit-sakit amat terkadang pilih tidur di sofa dari pada di kasur. Selain tirai yang bisa dibuka tutup ini memang tidak ada pembeda yang jelas antar dua ruangan ini. Kesimpulannya walau mungkin tidak disadari desain cukup besar andilnya dalam mengatur perilaku penggunanya.

Saya paling sebel kalau ada yang sakit. Haha, jahat ya. Biasanya saya tanya sakit banget atau cuma leyeh-leyeh. Kalau cuma tidur-tidur manis saya usir, kalau sakit banget saya suruh tidur di kasur (beberapa tidurnya di sofa) lalu saya tutup tirainya dan saya pumping. Ga peduli yang sakit laki-laki atau perempuan. Saya beberapa kali jadi ngobrol sama rekan kerja laki-laki yang lagi sakit selama pumping. Aneh sih memang, dan mungkin agak traumatis buat yang sakit, tapi prinsip saya ‘bodo amat daripada anak saya ga dapet ASI’. Toh sebenernya ga bisa lihat apa-apa juga kecuali dengar suara mesin pumping saya. Maaf ya yang jadi ga bisa tidur karena berisik.

3. Ruang Seminar
Saya juga pernah mompa sambil seminar. Soalnya gak mau ketinggalan materi seminarnya. Saya pakai kemeja kancing depan, memompa dengan pompa manual (supaya tidak ada bunyinya), dan pakai apron menyusui. Seluruh peserta seminar tidak pakai seragam jadi apronnya tidak menonjol. Saya bawa cool box juga. Jadi setelah selesai langsung masuk cool box.

Sebelah saya kebetulan laki-laki, untungnya dia cuek aja pas saya bilang ‘saya pumping dulu ya, tapi ga bakal kelihatan apa-apa kok’.

Saya cuma sekali pumping sambil seminar. Ini hanya bisa kalau pesertanya banyak banget dan seminarnya ga interaktif. Kalau training-nya orangnya sedikit dan banyak kerja kelompoknya ga akan bisa.

4. Meja Kerja
Kadang-kadang saat ruang laktasi sedang dipakai dan dikunci, saya memompa ASI di meja kerja. Saya ke kantor pakai seragam berupa kaos, didalamnya saya pakai tank top menyusui, jadi kalau kaosnya diangkat punggung saya tidak kelihatan. Nah selama memompa saya akan tutupi pakai jaket atau cardigan yang saya pakai kebalik. Sengaja gak pakai apron, karena apron biasanya warna-warni jadi kelihatan kalau saya lagi memompa di antara semua karyawan yang pakai seragam. Maklum kantornya tanpa bilik. Walaupun biasanya rekan kerja saya tetep tahu karena dengar bunyi mesin pumping (walaupun udah dibungkus kain tetep bersuara).

Meja kerja saya itu ga tetap, jadi yang duduk di depan saya bisa siapa aja. Ada beberapa rekan kerja lawan jenis yang cukup tidak nyaman kalau saya memompa di depan mereka. “Maaf yaaa, daripada Ru ga minum susu,” biasanya saya bilang begitu saja sambil nyengir-nyengir.

Sayangnya saya ga punya bra atau tali khusus untuk menahan dual breast pump saya, jadinya tangan saya yang bebas cuma satu. Kalau kerjaannya di depan meja terus mungkin akan saya beli jadi bisa sekalian kerja.

5. Mobil
Setiap hari saya juga pumping di mobil dalam perjalanan pulang kantor. Bisa pompa di mobil karena saya pulang-pergi nebeng. Terima kasih banyak dear teman kantorku. :* :* Saya biasanya pumping saat di tol dengan metode yang sama kalau pumping di meja kerja. Saya ga pernah pumping sambil nyetir karena sulit.



Sekarang saya memang sudah tidak berkerja lagi. Namun saya berhenti bekerja setelah Ru dua tahun dan disapih. Jadi harusnya cerita ini tetap relevan untuk para ibu bekerja. Semoga cerita saya berguna untuk para (calon) ibu perah. Tetap semangat dan jangan stress.

Moral, Tips, & Trik
- Intinya memerah ASI bisa dimana saja asalkan niat dan harus cuek. Menurut pengalaman saya, sebagian besar orang mengerti kok pentingnya ASI jadi pasti mendukung selama tidak merugikan untuk mereka.

- Tank top menyusui dan jaket /cardigan harus dipakai dan dibawa setiap hari agar bisa memerah dimana saja.

- Untuk yang mendesain ruang laktasi sebaiknya pilih arm chair saja, jangan sofa. Terkadang ibu perah memompa bersama-sama dan belum tentu akrab, akan lebih nyaman jika duduk sendiri-sendiri. Selain itu saat memompa duduk harus tegak, sehingga arm chair atau kursi dengan sandaran yang agak tegak akan lebih cocok.

BACA JUGA: Perlengkapan Memerah ASI di Kantor

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlukah Insisi Tongue Tie

Ru sudah bukan bayi lagi, tapi pengalaman menjadi ibu baru dan mengurus bayi sangat membekas bagi saya. Itulah mengapa sekali-kali saya bercerita cerita lampau di sini. Siapa tahu ada ibu baru yang mengalami hal serupa dan bisa belajar dari pengalaman saya. Salah satunya adalah tentang tongue tie , salah satu hal yang sempat ditanyakan beberapa teman saya paska melahirkan. Hampir tiga tahun lalu Ru lahir di Rumah Sakit Puri Cinere. Rumah sakit ini pro ASI. Setelah melahirkan, saya dan Ru tidak hanya dikunjungi oleh dokter kandungan dan dokter anak, tapi juga dokter laktasi. Dokter spesialis menyusui datang dan memeriksa apakah cara menyusu bayi sudah benar dan adakah masalah dalam menyusui. Juga mengajarkan posisi menyusui yang benar. Benar-benar membantu karena menyusui itu ternyata tidak semudah kelihatannya. Beberapa hari setelah Ru lahir puting payudara saya lecet (maaf agak vulgar). Menurut dokter laktasi, setelah memeriksa mulut Ru, hal itu disebabkan Ru mengalami tongue ti...

Cerita Melahirkan: Operasi Caesar Kedua

“Bu, lahir sekarang ya,” kata dokter kandungan saya dengan tenang. Jujur saya dan Bi kaget. Harusnya hari ini hanya kontrol rutin 37 minggu kehamilan. Mestinya sih kami tidak kaget-kaget amat. Sebulan terakhir bu dokter memang bilang ada kemungkinan harus segera dilahirkan kalau ketuban saya di bawah batas normal. Sebab cairan ketuban saya terbilang sedikit. Tapi kami yakin dan percaya itu tidak akan terjadi. Kan saya sudah minum 3 liter air tiap hari, minum air kelapa, dan Pocari Sweat seperti saran dokter. Saya juga sudah afirmasi positif bisa lahiran normal. Kenyataannya ga semua semua yang dipercaya jadi kenyataan. ( FYI saat itu indeks cairan ketuban ( Amniotic Fluid Index ) saya 8 padahal menurut dokter kandungan saya minimal 10. Seminggu sebelumnya masih 12.  Idealnya 15, kata bu dokter)

Chi Lin Nunnery dan Nan Lian Garden (HK Special, Part 5)

Minggu, 26-07-2015 Hong Kong Special Trip  Day 5 Hari terakhir di acara jalan-jalan kali ini. Huhu. Rencananya hari ini keluarga besar saya akan pergi ke Shenzhen untuk shopping dan melihat Window of the World. Saya izin untuk tidak ikut rombongan. Besok pagi kami sudah harus kembali ke Indonesia, sepertinya akan terlalu melelahkan untuk Ru (15 bulan). Akhirnya saya, Bi, dan Ru memutuskan untuk mengunjungi Chi Lin Nunnery dan Nan Lian Garden, yang letaknya berseberangan. Chi Lin Nunnery adalah kuil Budha bergaya Dinasti Tan yang awalnya dibangun pada 1934, dan dibangun ulang pada tahun 1990-an. Sementara Nan Lian Garden adalah taman bergaya klasik Cina yang juga dibuat bergaya Dinasti Tan.