Langsung ke konten utama

Weekend: Museum Geologi, Bandung


“Ru mau ke museum yang ada dinonya lagi,” ga kehitung berapa kali Ru bilang gini dua bulan terakhir. Semua berawal dari acara jalan-jalan spontan ke Museum Geologi Bandung.

Kami memang sering ke Bandung karena orang tua Bi, suami saya, tinggal di sana. Pagi itu sehabis makan bubur Mang Oyo, Bi mengajak kami ke Museum Geologi. Walaupun pernah tinggal di Bandung, saya dan Bi sama-sama belum pernah ke museum ini.


Harga tiket masuknya tiga ribu per orang. Ru (2.5 tahun) gratis. Anak-anak bayar kalau sudah PAUD. Peraturan yang aneh karena menurut undang-undang PAUD itu mulainya dari bayi. Karena Ru gratis jadi mungkin maksudnya TK.


Lantai Dasar: Aneka Fosil
Memasuki museum Ru langsung girang. Dia memang suka begitu di tempat baru. Langsung lari dari satu ruangan ke ruangan lain. Tidak sabar pengen lihat semua benda yang ada di sini. Juga berusaha manjat pagar-pagar pembatas. Jangan ditiru yang adik-adik (mana ada adik-adik baca blog). Favoritnya tentu saja replika tulang T-rex yang terkenal itu. Sayangnya Ru ga sempat foto karena keburu kabur ke sana ke mari. Hanya sempat foto sama kakinya.

Walaupun masih pagi museumnya sudah cukup ramai. Juga banyak rombongan sekolah, padahal hari minggu.

Lantai Dua: Bebatuan
Puas muter-muter di lantai dasar, kami mengajak Ru naik ke atas. Di lantai ini desainnya agak berbeda. Lebih modern dan lebih dewasa. Bagus sih, tapi menurut saya sedikit kurang ramah anak.

Di lantai ini Bi dan Ru mencoba simulasi gempa. Ru senang campur bingung. Maklum, belum pernah merasakan gempa yang sebenarnya. Ga seperti di lantai dasar, di sini dia ga terlalu lari-larian. Mungkin karena agak takut pencahayaannya lebih temaran. Favoritnya tentu saja gambar excavator. Haha, ga nyambung. Seperti yang pernah saya ceritakan di sini, Ru emang fans berat construction vehicle






Taman di Sekitar Museum Geologi
Beda sama anak-anak SD yang sibuk cari informasi di dalam museum, kami cuma cuci mata aja. Bahkan saya lebih ngeliatin desainnya dari pada konten museumnya. Kebiasaan deh. Jadi ga lama kami pun sudah selesai lihat-lihat museumnya.

Bi lalu mengajak untuk melihat lapangan Gasibu yang jadi bagus sejak Ridwan Kamil jadi wali kota. Ramai sekali lapangannya. Sempat ditegur karena pakai stroller di jalur jogging. Mungkin karena ketauan kalau kami ga berniat olah raga.

Setelah itu Bi mengajak ke taman lansia yang ada di seberangnya. Saya gamau. Dari jauh saja kelihatan ramai sekali. Saya kurang suka tempat ramai. Bi ga ngerti kenapa saya ga suka tempat ramai. Saya ga paham kenapa Bi dan orang Bandung lainnya bisa tetap senang di antara lautan orang.

Moral, Tips, & Trik
- Meseum geologi agak kurang ramah untuk anak Balita. Tapi kalau anaknya suka dinosaurus ternyata sangat berkesan.

- Lumayan oke sebagai alternatif hiburan keluarga yang mengedukasi dan murah.

- Saran buat pemerintah, mungkin museumnya bisa ditambahkan area untuk toddler. Supaya bukan cuma anak yang sudah besar saja yang bisa menikmati.

- Kalau mau ke sini bisa sepaket sama jalan-jalan ke Taman Gasibu, Perpustakaan Gasibu, dan Taman Lansia.

- Museum Geologi tutup setiap hari Jumat.

- Semoga kapan-kapan kita bisa lihat fosil dinosaurus beneran di Museum di luar sana ya Ru. Amin.

Komentar

  1. bagus ya museumnya dan bersih... mana murah pula tarif masuknya ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya juga ya.. kalau dibandingin tiket masuknya emang lumayan banget..

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Museum Kata, Belitung

Sebuah rumah warna-warni menyambut kami di pinggir jalan sepi itu. "Fiction is the new power" tertulis di sana. Menarik, pikir saya. Museum Kata ternyata lebih besar dari kelihatannya. Di dalamnya berisi tentang perjalanan Laskar Pelangi, juga tentang berbagai hal lainnya seperti tentang Belitung dan literatur dunia. Untuk pertama kalinya saya tidak terganggu dengan banyaknya tulisan yang tertempel di dinding. Biasanya museum dengan banyak tulisan dan sedikit interaksi dengan benda pamer membuat saya bosan. Namun museum ini membuat saya merasa membaca buku tiga dimensi. Saya mengagumi Andrea Hirata. Seseorang dari di pulau kecil tapi cerdas, mampu menulis dengan baik, sukses memperkenalkan kampung halamannya, dan meningkatkan perekonomian daerah asalnya lewat pariwisata. Gara-gara Laskar Pelangi Belitung lebih terkenal daripada pulau tetangganya, Bangka. Padahal pantai di Bangka juga sama cantiknya.

Playground: Kidzoona, AEON, BSD

Libur pemilu kemarin Ru main di AEON BSD sama sepupu-sepupunya, Freya dan Cleo. Tiba-tiba ke AEON karena uyutnya Ru yang lagi jalan-jalan ke sana dan pasti seneng kalau cicitnya ikut gabung. Akhirnya tiga bocah itu dibolehin main di playground karena bingung juga mau ngapain. Mainnya di Kidzoona, supaya eyang uyut bisa nontonin dari luar. Kalau Playtime dan Miniapolis tertutup jadi ga bisa dilihat anaknya lagi main apa. Kidzoona ada di dalam department store AEON bagian anak-anak di lantai 2. Tepatnya berada di ujung paling dalam. Harga Tiket dan Member Untuk main di sini ada dua pilihan waktu: 1 jam atau satu hari. Biayanya 80 ribu untuk satu jam dan 130 ribu untuk satu hari pada weekend atau hari libur. Sementara di hari kerja biayanya 50 ribu dan 80 ribu saja. Saran saya jangan pilih tiket satu hari kalau weekend . Selain mahal, playground -nya ramai.

#5. SG Trip - Peranakan Museum

( My Travel Series ) _____________ Senin, 25-1-2010 Singapore Museum Trip Day 1 (Please note that this trip happened in 2010, there are probably some changes in the museum now) Mengunjungi Museum Peranakan setelah  National Museum of Singapore  adalah suatu kesalahan. Pertama, energi saya sudah terkuras cukup banyak paska keliling-keliling di museum nasional yang sungguh besar itu. Kedua, Setelah melihat museum besar dan sangat 'wah', Museum Peranakan jadi terlihat kecil dan biasa saja. Padahal Museum Peranakan ini sebenarnya menarik. Museum Peranakan ini berisi tentang warga keturunan yang lahir di Singapura. Bagaimana ya menjelaskannya, intinya tentang beragam suku bangsa yang datang dan kemudian membangun keluarga di Singapura, asal-usul penduduk Singapura. Untuk lebih jelasnya, ini saya kasih sedikit preview lewat foto. Silahkan. Di luar Museum Peranakan Kiri: Saya sedang mendengarkan penjelasan via head phone. // Kanan: Si Ade dengan telpon k...