Langsung ke konten utama

Pelajaran dari Jalan-jalan ke Osaka Castle


Yang namanya jalan-jalan itu ga selalu sukses. Contohnya saat kami pergi ke Osaka Castle. Sebenernya bukan gagal gimana gitu sih. Tapi rasanya kurang inspiratif dan harusnya bisa jauh lebih baik.

Bingung Transportasi
Kesalahan utama saya adalah kurang cari informasi sebelum ke sini. Pasalnya saya terlalu mengandalkan ibu dan adik saya. Ketika berpisah dari rombongan, saya jadi kurang siap.

Selama jalan-jalan di Jepang saya dan keluarga membeli JR pass. JR pass ini adalah tiket terusan untuk naik kereta di line JR. Kalau mau untung sebaiknya hanya pakai kereta yang dikelola JR saja. Sayangnya jalur JR ini ga semuanya merupakan rute yang paling oke untuk pergi dari satu titik ke titik lain. Saat menuju Osaka Castle dari Namba kami sempat naik kereta non JR. Padahal ternyata bisa saja kalau mau pakai JR. Ini baru kami sadari saat pulang.


Salah Pilih Waktu
Kami pergi ke Osaka Castle setelah makan siang di musim panas. Bahkan untuk warga negara tropis musim panas di Jepang panas dan gerah sekali. Ditambah kami ga bawa payung. Pulang-pulang langsung tambah item. Huhuhu padahal aslinya juga udah keling.

Sedikit Foto
Akibat kepanasan saya dan Bi kehilangan keinginan untuk foto-foto. Saya baru sadar ketika mau bikin postingan ini. Kok fotonya sedikit sekali dan kami super kucel.



Yang Menarik
Di luar tiga hal di atas, yang namanya jalan-jalan ke tempat baru itu tetap menyenangkan bagi saya. Saya jadi tau beberapa hal baru. Juga jadi bisa belajar supaya jalan-jalan berikutnya bisa lebih baik.

Saya kagum banget sama arsitektur istana ini. Untuk ke sana kami harus lewat taman super luas dulu dan jalan menanjak. Bolak-balik Bi, suami saya, bilang kalau dia hidup di zaman dulu dan dia harus nyerang istana ini dia bakal nyerah aja sebelum sampai. Capeek nanjak. Ditambah ada ada parit besar yang mengelilingi istana. Sekarang sih gampang lewatnya, tapi kalau jaman dulu dan niatnya menyerang istana pasti kan sulit.

Kami tidak masuk ke dalam istananya. Konon katanya dalamnya biasa saja dan harus bayar. Saya dan Bi lebih pilih beli es krim saja daripada bayar masuk. Ru anak saya (2 tahun) malah main pasir di halaman istananya.


Selain itu, selama kami berada di area Osaka Castle, saya bisa mendengar bunyi burung gagak. Jadi serasa ada di dalam komik atau anime. Maklum, di Indonesia suara burung gagak jarang terdengar. “kaaaak.. kaaaak.. kaaaak…” Ru terus-terusan meniru bunyi gagak sepanjang perjalan pulang. Hehe. Lumayan punya kemampuan baru jadi gagak.

Satu hal lagi yang menarik perhatian saya, di perjalanan menuju dan pulang dari istana saya menyadari ada beberapa orang Jepang berkulit cokelat, berbeda dengan orang Jepang pada umumnya. Entah karena Osaka memang panas atau faktor keturunan. Saya jadi ingat Heiji Hattori di komik Conan yang ceritanya berasal dari Osaka dan digambarkan berkulit gelap.

Intinya saya tidak menyesal ke sini karena toh saya belum pernah dan pengalaman baru membuat saya bersemangat. Hanya saja kalau harus diulang lagi saya akan melakukan beberapa perbaikan supaya fotonya lebih kece.

Moral, Tips, & Trik
- Jika mau mengunjungi Osaka Castle di musim panas sebaiknya pagi hari supaya tidak terlalu panas

- Idealnya dikunjungi pada musim semi karena Osaka Castle merupakan salah satu tempat populer untuk menikmati bunga sakura.

- Banyak-banyak cari informasi sebelum jalan-jalan tanpa travel agent. Jangan terlalu mengandalkan orang lain.

- Pakai sepatu yang nyaman karena jalannya lumayan jauh.


SELANJUTNYA >> Kuil Fushimi Inari dengan Balita
SEBELUMNYA >> Minggu Pagi di Namba Parks, Osaka, Jepang

Komentar

  1. Asik banget ke Jepang Dis, anaknya rewel ngga trip jauh ? Btw nama kamu unik 😉 Salam kenal ya Dis 🤗

    BalasHapus
    Balasan
    1. untungnya ga rewel sama sekali.. Hehe makasi.. salam kenal juga sari :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlukah Insisi Tongue Tie

Ru sudah bukan bayi lagi, tapi pengalaman menjadi ibu baru dan mengurus bayi sangat membekas bagi saya. Itulah mengapa sekali-kali saya bercerita cerita lampau di sini. Siapa tahu ada ibu baru yang mengalami hal serupa dan bisa belajar dari pengalaman saya. Salah satunya adalah tentang tongue tie , salah satu hal yang sempat ditanyakan beberapa teman saya paska melahirkan. Hampir tiga tahun lalu Ru lahir di Rumah Sakit Puri Cinere. Rumah sakit ini pro ASI. Setelah melahirkan, saya dan Ru tidak hanya dikunjungi oleh dokter kandungan dan dokter anak, tapi juga dokter laktasi. Dokter spesialis menyusui datang dan memeriksa apakah cara menyusu bayi sudah benar dan adakah masalah dalam menyusui. Juga mengajarkan posisi menyusui yang benar. Benar-benar membantu karena menyusui itu ternyata tidak semudah kelihatannya. Beberapa hari setelah Ru lahir puting payudara saya lecet (maaf agak vulgar). Menurut dokter laktasi, setelah memeriksa mulut Ru, hal itu disebabkan Ru mengalami tongue ti...

Weekend Project: Mengecat Furnitur

Sebagai pasangan lulusan interior desain, saya dan Bi selalu banyak mau kalau berhubungan dengan furnitur dan teman-temannya. Mau yang bagus tapi murah. Nah , berhubung lemari pakaian sebelumnya built-in , kami ga bisa bawa pindah ke rumah baru.    Huhuhu.. Padahal lemari di apartemen udah oke banget menurut kami berdua. Terpaksa harus beli atau bikin lagi. Masalahnya, rumah baru ini judulnya minjem orang tua, jadi nantinya kami harus pindah lagi. Singkat cerita kami memutuskan untuk bikin lemari aka drawer yang ga nempel dinding dan bisa dibawa pindah. Gak mau pesen ke tukang furnitur beneran karena pasti mahal. Awalnya Bi mau bikin furnitur dari nol. Cuma dia mau beli alat-alatnya dulu. Yang canggih-canggih ala workshop orang luar. Ya kapan jadinya itu lemari. Akhirnya Bi jadi lebih realistis dan memutuskan buat pesen aja di tukang furnitur jati belanda yang suka banyak di sekitar Cirendeu atau Ciputat. Furnitur jati belanda harganya lebih murah dari tukang furnitur ...

Gyeongbokgung Palace, Seoul, Korea

15 Juli 2016 Tidak seperti kemarin, hari ini kami tidak menyewa bus dan berencana untuk berkeliling kota Seoul menggunakan subway. Kami tidak membeli tiket subway khusus karena lebih murah beli biasa bila hanya satu hari. Mengikuti itinerary yang telah dibuat tempat pertama yang akan kami kunjungi adalah Gyeongbokgung Palace. Istana ini adalah yang terbesar dan (katanya) paling bagus dari lima komplek istana yang ada di kota Seoul.