Langsung ke konten utama

Ternyata Ru Belum Besar

tingkah-anak-3-tahun
Belakangan ini saya merasa Ru (3 tahun 5 bulan) sudah jadi anak besar. Badannya semakin tinggi dan kemampuannya pun banyak bertambah. Ditambah dia selalu ingin ikut di setiap pembicaraan saya dan Bi, suami saya.

Tapi eh tapi kadang Ru melakukan beberapa hal yang menyadarkan saya kalau Ru tidak 'sebesar' kelihatannya.

Nama Hari
Bi : Ru, minggu depan papa mau pergi lama ya. Perginya jauuh sekali naik pesawat. Ru sama mama ya, dari hari Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, sampai Minggu lagi.

Ru: (diam sejenak) itu nama-nama hari... (pakai nada)

Yaaah ga ngerti deh kayaknya anaknya.

Oleh-oleh
Saya: Ru papa mau pergi lama kamu mau minta oleh-oleh apa? (FYI Bi mau ke Italia)

Ru: Nyamnyam!

Bi: Okay!!

Itu mah tinggal ngesot juga bisa beli.

Taruh Dot
Sampai saat ini Ru memang masih minum susu di dot. Suatu malam habis minum susu sambil tiduran di kasur kecilnya,

Ru: Mama, udah abis.

Saya : Yaudah, taro aja di atas kepala Ru (maksudnya di lantai di atas kasurnya).

Saya ga melihat ke arah Ru. Tiba-tiba Bi ketawa. Saat saya lihat ternyata Ru sedang menaruh botol susu di kepalanya (literally), sambil agak bingung tapi tidak merasa harus bertanya pada saya.

Bi: Mama sih instruksinya salah, disuruh taro di atas kepala.

Hehe, anak saya masih ‘oncom’ ternyata.





Moral, Tips, & Trik
- Memang ya waktu berjalan cepat sekali. Kalau tidak dinikmati tiap momennya sadar-sadar Ru sudah jadi anak besar dan ga lucu lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Museum Kata, Belitung

Sebuah rumah warna-warni menyambut kami di pinggir jalan sepi itu. "Fiction is the new power" tertulis di sana. Menarik, pikir saya. Museum Kata ternyata lebih besar dari kelihatannya. Di dalamnya berisi tentang perjalanan Laskar Pelangi, juga tentang berbagai hal lainnya seperti tentang Belitung dan literatur dunia. Untuk pertama kalinya saya tidak terganggu dengan banyaknya tulisan yang tertempel di dinding. Biasanya museum dengan banyak tulisan dan sedikit interaksi dengan benda pamer membuat saya bosan. Namun museum ini membuat saya merasa membaca buku tiga dimensi. Saya mengagumi Andrea Hirata. Seseorang dari di pulau kecil tapi cerdas, mampu menulis dengan baik, sukses memperkenalkan kampung halamannya, dan meningkatkan perekonomian daerah asalnya lewat pariwisata. Gara-gara Laskar Pelangi Belitung lebih terkenal daripada pulau tetangganya, Bangka. Padahal pantai di Bangka juga sama cantiknya.

Playground: Kidzoona, AEON, BSD

Libur pemilu kemarin Ru main di AEON BSD sama sepupu-sepupunya, Freya dan Cleo. Tiba-tiba ke AEON karena uyutnya Ru yang lagi jalan-jalan ke sana dan pasti seneng kalau cicitnya ikut gabung. Akhirnya tiga bocah itu dibolehin main di playground karena bingung juga mau ngapain. Mainnya di Kidzoona, supaya eyang uyut bisa nontonin dari luar. Kalau Playtime dan Miniapolis tertutup jadi ga bisa dilihat anaknya lagi main apa. Kidzoona ada di dalam department store AEON bagian anak-anak di lantai 2. Tepatnya berada di ujung paling dalam. Harga Tiket dan Member Untuk main di sini ada dua pilihan waktu: 1 jam atau satu hari. Biayanya 80 ribu untuk satu jam dan 130 ribu untuk satu hari pada weekend atau hari libur. Sementara di hari kerja biayanya 50 ribu dan 80 ribu saja. Saran saya jangan pilih tiket satu hari kalau weekend . Selain mahal, playground -nya ramai.

#5. SG Trip - Peranakan Museum

( My Travel Series ) _____________ Senin, 25-1-2010 Singapore Museum Trip Day 1 (Please note that this trip happened in 2010, there are probably some changes in the museum now) Mengunjungi Museum Peranakan setelah  National Museum of Singapore  adalah suatu kesalahan. Pertama, energi saya sudah terkuras cukup banyak paska keliling-keliling di museum nasional yang sungguh besar itu. Kedua, Setelah melihat museum besar dan sangat 'wah', Museum Peranakan jadi terlihat kecil dan biasa saja. Padahal Museum Peranakan ini sebenarnya menarik. Museum Peranakan ini berisi tentang warga keturunan yang lahir di Singapura. Bagaimana ya menjelaskannya, intinya tentang beragam suku bangsa yang datang dan kemudian membangun keluarga di Singapura, asal-usul penduduk Singapura. Untuk lebih jelasnya, ini saya kasih sedikit preview lewat foto. Silahkan. Di luar Museum Peranakan Kiri: Saya sedang mendengarkan penjelasan via head phone. // Kanan: Si Ade dengan telpon k...