Langsung ke konten utama

Playground: Kidzoona, AEON, BSD

Kidzoona AEON BSD
Libur pemilu kemarin Ru main di AEON BSD sama sepupu-sepupunya, Freya dan Cleo. Tiba-tiba ke AEON karena uyutnya Ru yang lagi jalan-jalan ke sana dan pasti seneng kalau cicitnya ikut gabung. Akhirnya tiga bocah itu dibolehin main di playground karena bingung juga mau ngapain. Mainnya di Kidzoona, supaya eyang uyut bisa nontonin dari luar. Kalau Playtime dan Miniapolis tertutup jadi ga bisa dilihat anaknya lagi main apa.

Kidzoona ada di dalam department store AEON bagian anak-anak di lantai 2. Tepatnya berada di ujung paling dalam.

Harga Tiket dan Member
Untuk main di sini ada dua pilihan waktu: 1 jam atau satu hari. Biayanya 80 ribu untuk satu jam dan 130 ribu untuk satu hari pada weekend atau hari libur. Sementara di hari kerja biayanya 50 ribu dan 80 ribu saja. Saran saya jangan pilih tiket satu hari kalau weekend. Selain mahal, playground-nya ramai.


Untuk yang lupa bawa kaos kaki ga perlu khawatir karena bisa beli di loket Kidzoona. Harganya 10 ribu. Lebih murah lima ribu dari di Playtime.

Menariknya, Kidzoona punya harga member dengan diskon 10 - 20 ribu, tergantung hari kerja atau weekend dan jenis tiket yang dibeli. Untuk jadi member harus mengumpulkan sepuluh stempel yang didapatkan setiap kali main di sini.

Jenis Permainan
Sesuai dengan konsepnya, edutainment, ragam permainan di Kidzoona cukup banyak. Teorinya semakin beragam mainannya maka kemampuan anak yang bisa terasah semakin banyak juga. Ga heran karena playground ini asalnya dari Jepang. Playground gratis di Jepang aja didesain dengan baik, apalagi yang bayar.

Salah satu favorit saya adalah area role play. Di sini anak-anak bisa main belanja-belanjaan, jadi kasir, jualan kue, jual makanan, dan lain-lain. Lengkap dengn kostum dan propertinya. Sayangnya Ru selalu main ke sini di hari libur, jadi keadaannya selalu ramai dan berantakan.

main di kidzoona AEON

kidzoona aeon saat weekend

kidzoona aeon ramai

Freya (5 tahun) seneng banget main perosotan balon. Lumayan curam perosotannya. Saya aja deg-deg an saat merosot.

Sementara Cleo (1 tahun) senang berendam di kolam bola dan ga mau keluar. Area kolam bola memang selalu paling sepi, mungkin karena posisinya ada di sudut. Karena sepi, area ini cocok untuk bayi-bayi. Area lainnya terlalu ramai, takut tertabrak anak-anak yang lebih besar.

perosotan balon kidzoona aeon
mandi bola biru putih kuning
tidur di kolam bola
Perkelahian Pertama
Setiap ke Kidzoona saya jadi ingat perkelahian pertama Ru. Beberapa bulan yang lalu, saat saya mengajak Ru main di sini, Kidzoona sedang ramai. Ru pun berebut naik front loader mini dengan anak laki-laki seumurannya sampai tampar-tamparan. Saat itu Bi yang jagain di dalam sementara saya nonton dari luar.

Bi diam saja dan hanya menonton sambil senyum-senyum. Sampai akhirnya ibu lawannya sadar lalu anaknya ditarik menjauh. Ru malah tersenyum bangga, merasa memenangkan perkelahian. Padahal si anak itu masih berusaha tendang Ru pas tangannya ditarik ibunya.

Selama berantem dua-duanya ga ada yang nangis. Hehe saya malah senang karena akhirnya Ru bertemu dengan lawan sepadan.  Bukannya saya pro perkelahian, tapi ya namanya anak laki-laki tidak apa-apa berantem sekali-sekali. Juga karena akhirnya saya ga perlu intervensi karena dari bayi Ru ga pernah nangis kalo rebutan tapi anak lainnya yang selalu berakhir nangis dan saya selalu berakhir minta maap. Si ibu anak itu pasti ngerti deh perasaan saya.


"Ru senang mama," anak saya itu selalu bilang gitu setiap habis diajak main ke playground sambil senyum lebar. Bisa aja ya dia bikin saya pengen ajak main terus.

Moral, Tips, & Trik
- Playground dengan beragam jenis permainan seperti Kidzoona adalah tipe playground kesukaan saya. Cocok buat anak yang suka eksplorasi kaya Ru.

- Satu jam cukup untuk anak mencoba semua permainan di sini. Walapun mungkin ga terlalu puas.

- Sayang saya ga punya foto pas lagi sepi. Mungkin lain kali saya update fotonya.


Baca juga : Playground Playtime, AEON, BSD

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlukah Insisi Tongue Tie

Ru sudah bukan bayi lagi, tapi pengalaman menjadi ibu baru dan mengurus bayi sangat membekas bagi saya. Itulah mengapa sekali-kali saya bercerita cerita lampau di sini. Siapa tahu ada ibu baru yang mengalami hal serupa dan bisa belajar dari pengalaman saya. Salah satunya adalah tentang tongue tie , salah satu hal yang sempat ditanyakan beberapa teman saya paska melahirkan. Hampir tiga tahun lalu Ru lahir di Rumah Sakit Puri Cinere. Rumah sakit ini pro ASI. Setelah melahirkan, saya dan Ru tidak hanya dikunjungi oleh dokter kandungan dan dokter anak, tapi juga dokter laktasi. Dokter spesialis menyusui datang dan memeriksa apakah cara menyusu bayi sudah benar dan adakah masalah dalam menyusui. Juga mengajarkan posisi menyusui yang benar. Benar-benar membantu karena menyusui itu ternyata tidak semudah kelihatannya. Beberapa hari setelah Ru lahir puting payudara saya lecet (maaf agak vulgar). Menurut dokter laktasi, setelah memeriksa mulut Ru, hal itu disebabkan Ru mengalami tongue ti...

Cerita Melahirkan: Operasi Caesar Kedua

“Bu, lahir sekarang ya,” kata dokter kandungan saya dengan tenang. Jujur saya dan Bi kaget. Harusnya hari ini hanya kontrol rutin 37 minggu kehamilan. Mestinya sih kami tidak kaget-kaget amat. Sebulan terakhir bu dokter memang bilang ada kemungkinan harus segera dilahirkan kalau ketuban saya di bawah batas normal. Sebab cairan ketuban saya terbilang sedikit. Tapi kami yakin dan percaya itu tidak akan terjadi. Kan saya sudah minum 3 liter air tiap hari, minum air kelapa, dan Pocari Sweat seperti saran dokter. Saya juga sudah afirmasi positif bisa lahiran normal. Kenyataannya ga semua semua yang dipercaya jadi kenyataan. ( FYI saat itu indeks cairan ketuban ( Amniotic Fluid Index ) saya 8 padahal menurut dokter kandungan saya minimal 10. Seminggu sebelumnya masih 12.  Idealnya 15, kata bu dokter)

Chi Lin Nunnery dan Nan Lian Garden (HK Special, Part 5)

Minggu, 26-07-2015 Hong Kong Special Trip  Day 5 Hari terakhir di acara jalan-jalan kali ini. Huhu. Rencananya hari ini keluarga besar saya akan pergi ke Shenzhen untuk shopping dan melihat Window of the World. Saya izin untuk tidak ikut rombongan. Besok pagi kami sudah harus kembali ke Indonesia, sepertinya akan terlalu melelahkan untuk Ru (15 bulan). Akhirnya saya, Bi, dan Ru memutuskan untuk mengunjungi Chi Lin Nunnery dan Nan Lian Garden, yang letaknya berseberangan. Chi Lin Nunnery adalah kuil Budha bergaya Dinasti Tan yang awalnya dibangun pada 1934, dan dibangun ulang pada tahun 1990-an. Sementara Nan Lian Garden adalah taman bergaya klasik Cina yang juga dibuat bergaya Dinasti Tan.