Langsung ke konten utama

Museum Bhakti TNI, Cilangkap

tank-museum
'Ru mau ke kantor eyang papa, di kantor eyang ada tank!'

Selasa lalu Ru (3 tahun) ikut eyang uti ke kantor. Sama saya dan mbaknya Ru tentunya. Iseng aja pengan ajak Ru jalan-jalan ke Markas Besar Tentara Republik Indonesia (TNI) sebelum eyang pensiun. Sekalian ke Museum Bhakti TNI yang ada di sana.

Masuk Museum Bhakti TNI
Mungkin tidak banyak yang tahu tentang museum ini, sebab letaknya ada di dalam Markas Besar TNI, Cilangkap. Untuk masuk ke area tersebut harus melawati pos penjagaan dan pemeriksaan kendaraan. Berhubung mama saya kerja di sana jadi hanya diperiksa cepat saja mobilnya seperti masuk mal, untuk orang umum saya kurang tahu prosedurnya.

Lokasi museum ini tak jauh dari pos penjagaan. Di depannya terpampang pesawat tempur, tank, dan kapal perang.

Museum ini sendiri terbuka untuk umum setiap hari senin sampai jumat jam 9.00-14.00. Biaya masuknya gratis. Untuk rombongan 50 orang ke atas tersedia pemandu.

museum-bhakti-TNI

Di Dalam Museum
Memasuki museum yang dibuka tahun 2012 ini kami tidak bertemu dengan siapa-siapa. Penjaganya sedang tidak ada. Ya sudah kami main masuk saja.

Seperti museum pada umumnya interiornya dibuat satu alur. Dinding-dindingnya dipenuhi foto-foto dan tulisan, dan di beberapa tempat terdapat patung-pantung diorama sesuai ruangannya.

Ruangan di bagian depan diterangi cahaya kuning temaran. Di area mengenai G30S PKI terdapat diorama jenazah yang diambil dari lubang. Hororrr. Haha untung saya ngajak si mbak, kalau berdua Ru saja mungkin saya udah keluar lagi. Saya tahu sih pencahayaannya memang ditujukan supaya pengunjung lebih menghayati pesan yang disampaikan, tapi tetep aja saya takut. Haha. Untunglah ruang-ruang selanjutnya lebih terang dan cahayanya putih.

Setiap area ruang menyampaikan pesan yang berbeda-beda, mulai dari operasi militer, kejadian-kejadian penting yang melibatkan TNI, sampai ke peran TNI untuk Indonesia. Untuk informasi lengkapnya bisa dibaca di buklet resminya.

visi-misi-TNI
tentara-museum-bhakti-TNI
interior-museum-bhakti-TNI

miniatur-kapal-perang
Lantai Dua Sedang Tutup
Di tengah-tengah museum akhirnya kami bertemu juga dengan bu tentara penjaga. Saya sempat ditanya-tanya dari mana dan kemudian diberitahu bahwa lantai dua ditutup karena sedang dilakukan perbaikan dan AC nya tidak menyala.

Ruang Favorit Ru
Sejujurnya museum ini terlalu dewasa untuk anak seumur Ru. Display-nya agak monoton dan tidak interaktif. Walaupun begitu ada ruangan yang Ru sangan suka: Ruang Penanggulangan Akibat Bencana Alam. Di dalam ruangan ini terdapat banyak foto excavator. Bagi yang belum tahu, anak saya itu fans berat alat-alat konstruksi. Dengan semangat minta difoto sama foto excavator. Hehe. Mau di Museum TNI, mau di Museum Geologi, tetep fotonya sama excavator.

excavator-museum-bhakti-TNI


Tank, Kapal, dan Monumen
Setelah selesai keliling museum, kami jalan-jalan di luar karena Ru mau lihat Tank. Tank dan kapalnya cuma panjangan saja. Cuma bisa buat foto-foto. Ru seneng-seneng aja bisa liat tank dari dekat.

Saat kami datang pesawat tempurnya kebetulan sedang dicat, Ru jadi ga bisa foto sama pesawat deh.

tank-museum-bhakti-TNI
kapal-perang

Setelah itu kami juga sempat jalan-jalan ke monumen Trikora dan Dwikora yang ada di sebelah museum. Saya sih mencoba jelasin ke Ru tentang monumen dan nama-nama korban yang ada di sana, tapi kayaknya anaknya belum ngerti. Sebenarnya ada satu monumen lagi, Monumen Seroja. Tapi lokasinya di seberang jalan, jadi kami ga ke sana.

monumen-trikora
monumen-dwikora-cilangkap

monumen-dwikora

'Papa tadi Ru liat tank sama excavator,' cerita Ru bangga saat ketemu papanya di rumah.

Moral, Tips, & Trik
- Museum ini cocok banget untuk anak-anak yang ingin jadi tentara.

- Interiornya lumayan bagus, dioramanya menyerupai aslinya, tapi masih bisa dikembangkan lagi supaya lebih menarik menurut saya.

- Bisa menjadi alternatif tempat wisata edukasi untuk anak-anak, apalagi masuknya gratis.

- Museumnya tidak terlalu besar, jadi cuma perlu waktu sebentar untuk menyusuri semuanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlukah Insisi Tongue Tie

Ru sudah bukan bayi lagi, tapi pengalaman menjadi ibu baru dan mengurus bayi sangat membekas bagi saya. Itulah mengapa sekali-kali saya bercerita cerita lampau di sini. Siapa tahu ada ibu baru yang mengalami hal serupa dan bisa belajar dari pengalaman saya. Salah satunya adalah tentang tongue tie , salah satu hal yang sempat ditanyakan beberapa teman saya paska melahirkan. Hampir tiga tahun lalu Ru lahir di Rumah Sakit Puri Cinere. Rumah sakit ini pro ASI. Setelah melahirkan, saya dan Ru tidak hanya dikunjungi oleh dokter kandungan dan dokter anak, tapi juga dokter laktasi. Dokter spesialis menyusui datang dan memeriksa apakah cara menyusu bayi sudah benar dan adakah masalah dalam menyusui. Juga mengajarkan posisi menyusui yang benar. Benar-benar membantu karena menyusui itu ternyata tidak semudah kelihatannya. Beberapa hari setelah Ru lahir puting payudara saya lecet (maaf agak vulgar). Menurut dokter laktasi, setelah memeriksa mulut Ru, hal itu disebabkan Ru mengalami tongue ti...

Cerita Melahirkan: Operasi Caesar Kedua

“Bu, lahir sekarang ya,” kata dokter kandungan saya dengan tenang. Jujur saya dan Bi kaget. Harusnya hari ini hanya kontrol rutin 37 minggu kehamilan. Mestinya sih kami tidak kaget-kaget amat. Sebulan terakhir bu dokter memang bilang ada kemungkinan harus segera dilahirkan kalau ketuban saya di bawah batas normal. Sebab cairan ketuban saya terbilang sedikit. Tapi kami yakin dan percaya itu tidak akan terjadi. Kan saya sudah minum 3 liter air tiap hari, minum air kelapa, dan Pocari Sweat seperti saran dokter. Saya juga sudah afirmasi positif bisa lahiran normal. Kenyataannya ga semua semua yang dipercaya jadi kenyataan. ( FYI saat itu indeks cairan ketuban ( Amniotic Fluid Index ) saya 8 padahal menurut dokter kandungan saya minimal 10. Seminggu sebelumnya masih 12.  Idealnya 15, kata bu dokter)

Chi Lin Nunnery dan Nan Lian Garden (HK Special, Part 5)

Minggu, 26-07-2015 Hong Kong Special Trip  Day 5 Hari terakhir di acara jalan-jalan kali ini. Huhu. Rencananya hari ini keluarga besar saya akan pergi ke Shenzhen untuk shopping dan melihat Window of the World. Saya izin untuk tidak ikut rombongan. Besok pagi kami sudah harus kembali ke Indonesia, sepertinya akan terlalu melelahkan untuk Ru (15 bulan). Akhirnya saya, Bi, dan Ru memutuskan untuk mengunjungi Chi Lin Nunnery dan Nan Lian Garden, yang letaknya berseberangan. Chi Lin Nunnery adalah kuil Budha bergaya Dinasti Tan yang awalnya dibangun pada 1934, dan dibangun ulang pada tahun 1990-an. Sementara Nan Lian Garden adalah taman bergaya klasik Cina yang juga dibuat bergaya Dinasti Tan.