Langsung ke konten utama

Museum Anak-anak, National Museum of Korea (Korea-Japan Trip, Part 1)

Kamis, 14-07-2016 (Korea - Japan Trip) 

Pesawat kami berangkat tengah malam dari Jakarta dan tiba di Incheon keesokan paginya. Sebuah bus lalu datang menjemput saya dan keluarga besar. Bus ini kami sewa sampai jam 6 sore, sudah dipesan dari di Indonesia via internet. Kami memberikan daftar tempat-tempat yang ingin kami kunjungi hari ini, perusahaan  bus tersebut kemudian mengatur rutenya dengan mempertimbangkan jarak dan kemacetan. Baik ya. 

National Museum of Korea adalah tujuan pertama kami. Saya pilih karena di sini ada Children's Museum-nya dan saya pengen lihat desainnya. Hehe, alasan yang lumayan egois. Tapi keluarga saya mau juga kok, katanya pengen lihat kayak apa museum untuk anak-anak karena kan di Indonesia belum ada. Plus masuk museum gratis jadi lumayan kan bisa berhemat.


Jujur saat di dalam museum ini saya sibuk perhatiin desainnya tanpa beneran fokus sama kontennya. Saya lebih perhatiin layout, material, bentuk, ukuran, dan teknis-teknis lainnya daripada bacain tulisan dan mencoba memahami ini museum tentang apa.

Jadi menurut hasil googling, museum ini berisi tentang bagaimana orang Korea jaman dahulu hidup. Mulai dari rumah, pakaian, tempat kerja, dan musiknya. Semuanya disajikan dengan interaktif. Pengunjung bisa mencoba, bermain, dan memegang berbagai objek pamer. Semua dibuat rendah supaya pas dengan ukuran anak-anak, kalau untuk orang dewasa jadi kayak negeri liliput. 

Favorit saya adalah pecahan guci keramik yang bisa disusun utuh kembali karena ada magnet di setiap potongannya. Ru (2 tahun) dan Bi main ini berdua, saya sih jadi penonton dan penggembira. Selain itu saya juga suka dengan dinding menonjol yang ternyata ada objek pamer rahasia di dalamnya. Pengunjung harus merangkak masuk lewat ruang kosong di bawah dinding untuk bisa lihat. Kalau ga eksploratif pasti ga sadar sih. Seru.

Saya tuh lagi suka banget mempelajari tentang desain untuk anak-anak (yang ternyata jauh lebih kompleks dari kelihatannya) dan desain museum ini sesuai sama rekomendasi untuk desain tempat bermain yang baik versi negara maju. Kapan ya Indonesia bisa punya museum anak-anak yang beneran didesain dengan mikirin anaknya dan bukan cuma kelihatan bagus di mata orang dewasa. 

Dinding black board. Saya juga mau bikin di rumah belum-belum aja.

Furniturnya bisa buat main,


Bukit ini perosotan, Ada tangga dan perosotannya. Tapi bebas sih mau ngapain di sini.

Guci keramiknya utuh lagi. Good job Bi dan Ru.

Gambar-gambar di dinding bisa digerakkan. Di belakang si dinding menonjol yang saya ceritain.

Ru lari-lari an aja di rumah tembikar. Belum ngerti ini apaan, tapi seneng aja tuh anaknya.

Di sini anak-anak bisa cobain pakau baju raja-ratu Korea jaman dulu

Genteng-gentengnya bisa dicopot dan dipasang lagi.

Sayangnya waktu kami sangat terbatas, jadi setelah sekitar satu jam main di sini, kami lanjut ke tempat berikutnya dan ga sempat masuk ke National Museum of Korea nya. Mungkin lain kali ya, Saya mau kok ke Korea lagi. Hehe.

Moral, Tips, & Trik

- Tempat recomended untuk liburan bersama anak. Apalagi tiket masuknya gratis.

- Jam buka 9.00-18.00 (17.00 terakhir masuk), Buka sampai jam 21.00 di hari rabu terakhir setiap bulan.

- Cara ke tempat ini dengan subway: Ichon Station (Seoul Subway line 4 & Jungan line), Exit 2

- Selain National Museum of Korea ada beberapa lagi Children Museum misalnya Seoul Children Museum dan Children Folk Museum. Sayang saya ga sempat mengunjungi yang lainnya. 


Follow my blog with Bloglovin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Museum Kata, Belitung

Sebuah rumah warna-warni menyambut kami di pinggir jalan sepi itu. "Fiction is the new power" tertulis di sana. Menarik, pikir saya. Museum Kata ternyata lebih besar dari kelihatannya. Di dalamnya berisi tentang perjalanan Laskar Pelangi, juga tentang berbagai hal lainnya seperti tentang Belitung dan literatur dunia. Untuk pertama kalinya saya tidak terganggu dengan banyaknya tulisan yang tertempel di dinding. Biasanya museum dengan banyak tulisan dan sedikit interaksi dengan benda pamer membuat saya bosan. Namun museum ini membuat saya merasa membaca buku tiga dimensi. Saya mengagumi Andrea Hirata. Seseorang dari di pulau kecil tapi cerdas, mampu menulis dengan baik, sukses memperkenalkan kampung halamannya, dan meningkatkan perekonomian daerah asalnya lewat pariwisata. Gara-gara Laskar Pelangi Belitung lebih terkenal daripada pulau tetangganya, Bangka. Padahal pantai di Bangka juga sama cantiknya.

Playground: Kidzoona, AEON, BSD

Libur pemilu kemarin Ru main di AEON BSD sama sepupu-sepupunya, Freya dan Cleo. Tiba-tiba ke AEON karena uyutnya Ru yang lagi jalan-jalan ke sana dan pasti seneng kalau cicitnya ikut gabung. Akhirnya tiga bocah itu dibolehin main di playground karena bingung juga mau ngapain. Mainnya di Kidzoona, supaya eyang uyut bisa nontonin dari luar. Kalau Playtime dan Miniapolis tertutup jadi ga bisa dilihat anaknya lagi main apa. Kidzoona ada di dalam department store AEON bagian anak-anak di lantai 2. Tepatnya berada di ujung paling dalam. Harga Tiket dan Member Untuk main di sini ada dua pilihan waktu: 1 jam atau satu hari. Biayanya 80 ribu untuk satu jam dan 130 ribu untuk satu hari pada weekend atau hari libur. Sementara di hari kerja biayanya 50 ribu dan 80 ribu saja. Saran saya jangan pilih tiket satu hari kalau weekend . Selain mahal, playground -nya ramai.

#5. SG Trip - Peranakan Museum

( My Travel Series ) _____________ Senin, 25-1-2010 Singapore Museum Trip Day 1 (Please note that this trip happened in 2010, there are probably some changes in the museum now) Mengunjungi Museum Peranakan setelah  National Museum of Singapore  adalah suatu kesalahan. Pertama, energi saya sudah terkuras cukup banyak paska keliling-keliling di museum nasional yang sungguh besar itu. Kedua, Setelah melihat museum besar dan sangat 'wah', Museum Peranakan jadi terlihat kecil dan biasa saja. Padahal Museum Peranakan ini sebenarnya menarik. Museum Peranakan ini berisi tentang warga keturunan yang lahir di Singapura. Bagaimana ya menjelaskannya, intinya tentang beragam suku bangsa yang datang dan kemudian membangun keluarga di Singapura, asal-usul penduduk Singapura. Untuk lebih jelasnya, ini saya kasih sedikit preview lewat foto. Silahkan. Di luar Museum Peranakan Kiri: Saya sedang mendengarkan penjelasan via head phone. // Kanan: Si Ade dengan telpon k...