Langsung ke konten utama

Cerita Melahirkan

H-2, Tragedi Comberan

"Jatuh dimana bu? Kok bisa?" tanya dokter kandungan saya dengan muka agak khawatir.

Saya nyengir-nyengir dulu sebelum jawab. Supaya bu dokter tau sebenernya saya ga merasa apa-apa.

***

Pagi itu sesuai saran dokter, saya jalan pagi. Entah kenapa saya pengen lewat rute yang lain dari biasanya. Sebagian rutenya lewat jalan besar. Jalannya memang ga ada trotoar. Tapi saya pikir asal hati-hati ya tidak berbahaya.

Ketika saya jalan, tiba-tiba ada rombongan truk tentara super ngebut. Serem banget rasanya sampai kayak mau menyerempet pejalan kaki. Imbasnya, angkot-angkot di belakangnya latah ikut-ikut ngebut dengan kecepatan kayak di tol. Saya punya dua pilihan, melipir ke got atau keserempet angkot. Saya pilih yang kedua karena sepertinya lebih aman.

Detik berikutnya saya merasa kaki saya tergelincir masuk got. Comberan lebih tepatnya, karena warna dan baunya di level 10 dari 10. Kejadiannya lumayan cepat, entah gimana saya udah jatuh tersungkur dengan kaki dan perut tenggelam di comberan. Untung ada Bi yang segera menahan saya. Kalau ngga kayaknya saya bakal tenggelam sampai kepala. Bukannya panik waktu itu saya malah mikir 'eh gila ini comberan kayak lumpur hisap'

Setelah berhasil keluar dari comberan hisap, saya digandeng Bi pulang ke rumah. Ga ada yang sakit sih. Tapi dari perut ke bawah penuh lumpur plus tangan juga. Saya dan Bi antara pengen ketawa tapi khawatir si ade bayi di dalem perut kenapa-kenapa. Habisnya saya jatohnya telungkup ke depan.

Setelah mandi dan membuat kamar mandi bau comberan sampai beberapa hari ke depan, saya dan Bi meluncur ke rumah sakit.

***

"Iya dok, jatoh ke got pas jalan pagi. Tapi pelan sih jatuhnya, sama empuk karena jatuhnya ke lumpur," jawab saya singkat. Kasian pasien berikutnya kalau saya cerita kepanjangan.

Bu dokter tetep penasaran nanya saya jatuh dimana dan apa saya jalan pagi sendirian atau sama Bi. Saya lalu di USG. Alhamdulillah menurut bu dokter kandungan saya baik-baik saja. Cuma dia khawatir liat perut saya ada memar karena waktu itu nabrak gagang pintu.  Kami pun diperbolehkan pulang dengan anjuran untuk jalan pagi di dalam rumah aja dan berharap saya cepat melahirkan daripada jatuh atau memar lagi. hehe.

Cerita ini mungkin ga ada hubungannya sama cerita melahirkan saya, tapi mungkin juga ada. Terserah intpretasi masing-masing.

H-1, Saatnya ke Rumah Sakit

Sehari setelah tragedi comberan saya dan Bi akhirnya jalan pagi di dalam komplek saja. Bosen sih, karena komplek saya kecil jadi mondar-mandir puluhan kali. Semuanya berjalan normal-normal saja sampai Bi pulang kantor.

"Bi ini cairan apa ya?" tanya saya waspada ketika ada cairan bening keluar sampe membasahi tempat tidur pas kita lagi main kartu. Beneran lagi main kartu. Pas saya berdiri cairan itu juga terus keluar sampai ke lantai. Wah, ketuban nih.

Saya pun cek dengan kertas lakmus. Kertas lakmusnya berubah jadi ungu jadi saya tetep ga yakin. Karena katanya harusnya berubah jadi biru. Btw saya bukan super terencana sampe punya kertas lakmus. Tapi karena dikasih bu bidan pas saya salah sangka beberapa hari sebelumnya.

Cairannya tetep ga berhenti. Saya tiduran, Bi telpon mama. "Yaudah janjian di rumah sakit ya," kata Mama, padahal maksudnya minta dijemput dan dianter karena di sini ga ada mobil. "Eee.. iya ma, di sini ga ada mobil, minta dijemput maksudnya," bales si Bi agak kagok, maklum ngomong sama mertua. Hehe.

***

Singkat cerita saya sampai di rumah sakit. Bidan langsung minta saya buang air kecil, ganti baju rumah sakit (karena kalau ketuban udah pecah bayi harus lahir dalam 12 jam), dan tiduran untuk di-CTG. CTG itu untuk monitor jantung bayi dan kontraksi ibu. Bu bidan lalu tes si cairan dengan kertas lakmus, periksa dalam, pasang alat CTG, dan panggil orang lab. Orang lab ambil darah saya dari tangan kanan-kiri dan kuping. Udah kayak nyamuk.

Jadi ternyata periksa dalam yang kata orang ga enak itu ternyata beneran ga enak. Siapa juga yang seneng ada jari yang masuk ke kemaluan untuk ngukur udah berapa cm bukaannya. Dari periksa dalam yang ga enak itu, kata bu bidan saya belum ada bukaan.

Denger saya pecah ketuban, keluarga mama saya langsung pada dateng ke rumah sakit. Mereka pulang lagi setelah tau saya belum ada bukaan. Juga karena saya senyum-senyum tanda belum ada kontraksi berarti.

"Bu, ini kayaknya masih lama. Mau istirahat di kamar aja?" tanya bu Bidan. Saat itu saya tiduran di ruang tindakan. Ok. Sayapun dibawa ke kamar. Disuruh tidur biar besok punya tenaga untuk mengejan.


Hari H, Operasi oh Operasi
Saya terbagun. Jam 5 pagi. Padahal saya tidur dari jam 12 dan ga kebangun karena kesakitan. Bener aja. Pas diperiksa dalam baru bukaan 1 dari 10. Padahal udah 9 jam dari pecah ketuban.

Bi dipanggil ke ruang suster untuk ngobrol sama dokter via telpon. Bi lalu bilang ke saya. Karena waktunya semakin habis akan dicoba dipercepat kontraksinya lewat induksi, tapi kalau sampe jam 10 ga lahir, mau gamau harus caesar. Saya setuju.

Saatnya kembali ke ruang tindakan. Saya sarapan. Lalu disuruh pup dulu. Lalu infus berisi cairan induksi dipasang. Saya pun mulai merasakan sakitnya kontraksi. Skala sakitnya mungkin 8,5 dari 10 dan berlangsung selama tiga menit. Anehnya sakitnya ga makin bertambah dan waktu jedanya juga ga makin pendek. 

Bidan datang lagi menanyakan kondisi saya. Lagi-lagi pemeriksaan dalam. Tapi kali ini bidannya kaget. Ada pembengkakan di dekat muluit rahim yang harusnya akan robek saat bayi keluar. Opsi untuk  lahiran normal langsung dibatalkan. Infus induksi dicabut. Saya pun disuruh menunggu ruang operasi disiapkan.

Dag dig dug lah ya pastinya. Tapi kata teman saya operasi caesar lebih ga sakit dari lahiran normal. Walaupun sih menurut yang saya baca-baca tetep aja yang namanya operasi resikonya lebih besar dari yang normal.

Kiri: Bukti kalau induksinya ga berhasil. Kalau sukses mana mungkin saya masih bisa senyam-senyum gitu. 
Kanan: Sebelum masuk ruang operasi. Dag dig dug tapi sok santai.


Begitu masuk ruang operasi saya gemeteran. Dingin banget ACnya. Mungkin sayanya juga sih yang kurang lemak. Lima belas menit setelah operasi dimulai Baby Ru lahir. Nangisnya kenceng banget. Hihihi. Dia langsung dibersihin sebelum ditaruh di dada saya untuk inisiasi menyusui dini. Hmm perasaannya aneh-aneh gimana gitu. hehehe. Senang campur ga percaya, campur deg degan.

Cuma sebentar baby Ru di atas dada saya. Setelah itu dia diambil dan dibawa keluar. Yah kesepian lagi deh. Saya tetep gemeter kedinginan sampe operasi selesai. Rasanya kayak berenang di puncak tapi ga boleh handukan selama 45 menit.

Saya baru ketemu Baby Ru lagi dua jam kemudian, Setelah masa observasi paska operasi selesai. Halo anak ganteng mama!

 Akhirnya ketemu lagi sama Baby Ru. Kecup!

Oiya, tentang tragedi comberan, saya sih mikir itu penyebab kenapa saya pecah ketuban  tapi ga pembukaan. Dokternya ga bilang apa-apa si.

Moral

- Saat operasi saya tidak boleh ditemani suami bahkan dua jam masa observasi juga ga boleh. Baru tau dari teman itu karena saya lahiran di rumah sakit umum. Ruang operasinya ga cuma untuk melahirkan aja. Kalau di rumah sakit khusus ibu anak operasi caesar boleh ditemani. Ok, kalau anak kedua harus caesar saya mau di rumah sakit ibu anak aja ah.

- Walaupun saya ga lahiran normal, tapi senam hamil ga sia-sia kok. Soalnya banyak dapet info tentang merawat anak juga saat senam hamil.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlukah Insisi Tongue Tie

Ru sudah bukan bayi lagi, tapi pengalaman menjadi ibu baru dan mengurus bayi sangat membekas bagi saya. Itulah mengapa sekali-kali saya bercerita cerita lampau di sini. Siapa tahu ada ibu baru yang mengalami hal serupa dan bisa belajar dari pengalaman saya. Salah satunya adalah tentang tongue tie , salah satu hal yang sempat ditanyakan beberapa teman saya paska melahirkan. Hampir tiga tahun lalu Ru lahir di Rumah Sakit Puri Cinere. Rumah sakit ini pro ASI. Setelah melahirkan, saya dan Ru tidak hanya dikunjungi oleh dokter kandungan dan dokter anak, tapi juga dokter laktasi. Dokter spesialis menyusui datang dan memeriksa apakah cara menyusu bayi sudah benar dan adakah masalah dalam menyusui. Juga mengajarkan posisi menyusui yang benar. Benar-benar membantu karena menyusui itu ternyata tidak semudah kelihatannya. Beberapa hari setelah Ru lahir puting payudara saya lecet (maaf agak vulgar). Menurut dokter laktasi, setelah memeriksa mulut Ru, hal itu disebabkan Ru mengalami tongue ti...

Cerita Melahirkan: Operasi Caesar Kedua

“Bu, lahir sekarang ya,” kata dokter kandungan saya dengan tenang. Jujur saya dan Bi kaget. Harusnya hari ini hanya kontrol rutin 37 minggu kehamilan. Mestinya sih kami tidak kaget-kaget amat. Sebulan terakhir bu dokter memang bilang ada kemungkinan harus segera dilahirkan kalau ketuban saya di bawah batas normal. Sebab cairan ketuban saya terbilang sedikit. Tapi kami yakin dan percaya itu tidak akan terjadi. Kan saya sudah minum 3 liter air tiap hari, minum air kelapa, dan Pocari Sweat seperti saran dokter. Saya juga sudah afirmasi positif bisa lahiran normal. Kenyataannya ga semua semua yang dipercaya jadi kenyataan. ( FYI saat itu indeks cairan ketuban ( Amniotic Fluid Index ) saya 8 padahal menurut dokter kandungan saya minimal 10. Seminggu sebelumnya masih 12.  Idealnya 15, kata bu dokter)

Chi Lin Nunnery dan Nan Lian Garden (HK Special, Part 5)

Minggu, 26-07-2015 Hong Kong Special Trip  Day 5 Hari terakhir di acara jalan-jalan kali ini. Huhu. Rencananya hari ini keluarga besar saya akan pergi ke Shenzhen untuk shopping dan melihat Window of the World. Saya izin untuk tidak ikut rombongan. Besok pagi kami sudah harus kembali ke Indonesia, sepertinya akan terlalu melelahkan untuk Ru (15 bulan). Akhirnya saya, Bi, dan Ru memutuskan untuk mengunjungi Chi Lin Nunnery dan Nan Lian Garden, yang letaknya berseberangan. Chi Lin Nunnery adalah kuil Budha bergaya Dinasti Tan yang awalnya dibangun pada 1934, dan dibangun ulang pada tahun 1990-an. Sementara Nan Lian Garden adalah taman bergaya klasik Cina yang juga dibuat bergaya Dinasti Tan.