Langsung ke konten utama

Staycation di Hotel Ibis Style Bogor

staycation-bogor

Belajar dari pengalaman anak pertama, bulan-bulan awal paska melahirkan saya sulit keluar rumah. Ga mau anak saya sakit karena antibodinya belum sempurna. Jadi saya pun meminta Bi, suami saya, untuk pergi jalan-jalan sebelum melahirkan. Niatnya supaya puas keluar rumah biar nantinya saya ga stress.

Agar saya ga kecapean Bi mengusulkan untuk staycation di hotel saja. Terserah mau hotel apa asalkan dekat Jakarta dan jangan terlalu mahal. Plus kalau bisa masih baru, desainnya bagus, dan ramah anak. Banyak mau ya. Akhirnya pilihannya jatuh pada Hotel Ibis Style Bogor.

Hotel yang lokasinya persis disebelah Novotel Bogor ini baru dibuka akhir tahun 2016, ada kolam renang, dan kids’corner, sesuai dengan kriteria kami. Kami pun langsung booking sehari sebelumnya.

Desain Interior
Seperti staycation sebelum-sebelumnya kami punya agenda terselubung untuk memperhatikan desain hotelnya. Kebetulan Bi memang banyak mendesain hotel, kalau saya sih tim penggembira saja, senang lihat desain bagus.

Salah satu yang paling saya suka adalah desain kamar mandi di kamar, unik. Kalau biasanya tertutup dinding atau kaca, di sini pembatasnya partisi yang bisa dibuka tutup dengan digeser. Hanya saja saat mandi harus lebih berhati-hati karena lantainya agak licin. Sebab lantai kamar mandi dan kamar sama. Kalau kata Bi pekerjaan kontraktornya juga kurang rapi. Iya sih memang nat-nat antar homogeneous tiles-nya kurang rapi, ah tapi kalau orang biasa sepertinya ga akan sadar.

Selain kamar mandinya, secara umum desain hotel ini menurut saya menarik dan kekinian. Saya senang deh kalau berada di tempat yang desainnya bagus.

kamar-ibis-bogor

pintu-geser-untuk-ruang-sempit

kamar-mandi

ibis-bogor-desain

dekorasi-lobi-hotel-bogor

karpet-lift

Arsitektural dan Kolam Renang
Beda dengan interiornya, arsitektural bangunan ini biasa saja. Ditambah lagi akustiknya kurang baik. Selama di sana saya sangat terganggu dengan suara orang di kamar sebelah dan lorong yang sangat terdengar dari kamar.

Untuk hotel baru, desain kolam renangnya juga kurang modern. Ditambah penggunaan lantai yang licin di sekeliling kolam. Sebenarnya pihak hotel telah menambahkan karpet karet di bagian-bagian penting, namun tetap saja selama di sana saya melihat beberapa orang terpeleset. Termasuk di antaranya Ru (3.5 tahun).

Walaupun begitu kolam renang tetap ramai. Ru senang karena di sini ada kolam anak-anak. Selain itu sebenarnya ada kids activity juga. Saat saya di sana kegiatannya adalah melipat handuk. Ru tentu saja tidak ikut karena sepertinya dia belum bisa.

“Mama besok Ru mau berenang lagi ya. Kita tidur di sini lagi ya,” ujar Ru yang ternyata belum puas.

kolam-renang-ibis-bogor

kolam-renang-anak-ibis-bogor

ru-siap-berenang

Restoran dan Sarapan
Sarapan di hotel ini dimulai cukup pagi, jam 6. Makanannya lumayan beragam dan rasanya enak-enak saja menurut saya.

Kami sarapan jam 6.30 dan ternyata sudah lumayan ramai. Sebagian besar keluarga dengan anak yang sepertinya sengaja sarapan pagi-pagi agar bisa segera berenang. Memang akses ke kolam renang melewati restoran.

restoran-ibis-bogor

makan-di-hotel-ibis-bogor

sarapan-di-hotel-ibis-bogor

Kids Corner
Sebelum pulang, Ru sempat main ke Kids Corner dulu. Entah kenapa Kids Corner-nya pindah ke ruang meeting, padahal aslinya ada ruang main khusus yang sudah didesain warna-warni.

Di dalam Kids Corner sementara ini terdapat dua layar besar untuk playstation, meja-kursi anak-anak, bean bag, lego kw, balok, dan kertas gambar untuk diwarnai. Di sini tidak ada pegawai yang bertugas seperti di R Hotel Rancamaya ataupun di DoubleTree Hotel.

Meski minim permainan Ru senang-senang saja main di sini. Bahkan menolak saat diajak pulang.

kidscorner-ibis-bogor

kids-corner-sementara

Wisata Kuliner di Bogor
Walau agenda utama staycation kali ini adalah leyeh-leyeh di hotel, kami sempat mampir makan di beberapa tempat. Pagi-pagi sebelum bisa check in kami brunch di Momomilk Barn lalu makan siang di Forestree.

Momomilk Barn
Menu andalan restoran ini adalah produk susu. Saya memesan yougurt strawberry yang menurut saya enak, tapi bagi Bi terlalu manis.

Kami tidak berlama-lama di sini karena restoran ini tidak punya playground. Playground itu penting sekali untuk kami, karena tanpanya Ru akan membuat semua tempat jadi playground. Misalnya naik-naik ke sofa, cuci tangan di air terjun, berupaya duduk di meja dan sebagainya.

momomilk-bogor-barn

minum-yougurt-susu-di-bogor

Forestree
Dengan perut masih kenyang kami pergi ke restoran berikutnya. Habisnya bingung mau ngapain lagi. Bi gamau saya kecapean karena kemarinnya perut saya lumayan sering keras dan agak sakit.

Untunglah di sini ada playground. Playground-nya dikelilingi pagar dengan lantai dilapis rumput sintetik. Di dalamnya terdapat mainan balok dan kuda-kudaan. Meski minim mainan Ru cukup betah main di sini. Sepertinya karena ada anak-anak seumur yang juga sedang bermain.

Untuk makanannya saya ga komentar ya. Saya makannya sambil masih kenyang sih, jadi sepertinya akan tidak objektif.

Di sini kami sempat beli Cakekinian, cake jualannya vlogger Arief Muhammad. Bi sih yang beli. Dia kan lebih kekinian daripada saya. Haha.

forestree-bogor

playground-restauran-bogor-forestree
Makan Malam di Kluwih
Selain dua restoran tadi kami juga sempat makan di Restoran sunda Kluwih. Cerita lengkapnya sudah pernah saya tulis. (Baca: Restoran Kluwih Sunda Authentic Bogor)

Saya suka Staycation
Sekian cerita staycation kali ini. Lumayan membuat saya tidak terlalu jenuh di rumah pada bulan pertama paska Haha lahir. Moga-moga kami bisa staycation lagi, karena kegiatan ini berhasil bikin semua orang di keluarga kecil saya senang.

Moral, Tips, & Trik
-Hotel Ibis Style Bogor cocok untuk staycation bersama anak dan menghirup udara segar karena lokasinya jauh dari hiruk pikuk perkotaan.

-Meskipun child-friendly, aktivitas anak yang tersedia tidak terlalu banyak. Jadi jangan ketinggian ya harapannya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlukah Insisi Tongue Tie

Ru sudah bukan bayi lagi, tapi pengalaman menjadi ibu baru dan mengurus bayi sangat membekas bagi saya. Itulah mengapa sekali-kali saya bercerita cerita lampau di sini. Siapa tahu ada ibu baru yang mengalami hal serupa dan bisa belajar dari pengalaman saya. Salah satunya adalah tentang tongue tie , salah satu hal yang sempat ditanyakan beberapa teman saya paska melahirkan. Hampir tiga tahun lalu Ru lahir di Rumah Sakit Puri Cinere. Rumah sakit ini pro ASI. Setelah melahirkan, saya dan Ru tidak hanya dikunjungi oleh dokter kandungan dan dokter anak, tapi juga dokter laktasi. Dokter spesialis menyusui datang dan memeriksa apakah cara menyusu bayi sudah benar dan adakah masalah dalam menyusui. Juga mengajarkan posisi menyusui yang benar. Benar-benar membantu karena menyusui itu ternyata tidak semudah kelihatannya. Beberapa hari setelah Ru lahir puting payudara saya lecet (maaf agak vulgar). Menurut dokter laktasi, setelah memeriksa mulut Ru, hal itu disebabkan Ru mengalami tongue ti...

Cerita Melahirkan: Operasi Caesar Kedua

“Bu, lahir sekarang ya,” kata dokter kandungan saya dengan tenang. Jujur saya dan Bi kaget. Harusnya hari ini hanya kontrol rutin 37 minggu kehamilan. Mestinya sih kami tidak kaget-kaget amat. Sebulan terakhir bu dokter memang bilang ada kemungkinan harus segera dilahirkan kalau ketuban saya di bawah batas normal. Sebab cairan ketuban saya terbilang sedikit. Tapi kami yakin dan percaya itu tidak akan terjadi. Kan saya sudah minum 3 liter air tiap hari, minum air kelapa, dan Pocari Sweat seperti saran dokter. Saya juga sudah afirmasi positif bisa lahiran normal. Kenyataannya ga semua semua yang dipercaya jadi kenyataan. ( FYI saat itu indeks cairan ketuban ( Amniotic Fluid Index ) saya 8 padahal menurut dokter kandungan saya minimal 10. Seminggu sebelumnya masih 12.  Idealnya 15, kata bu dokter)

Chi Lin Nunnery dan Nan Lian Garden (HK Special, Part 5)

Minggu, 26-07-2015 Hong Kong Special Trip  Day 5 Hari terakhir di acara jalan-jalan kali ini. Huhu. Rencananya hari ini keluarga besar saya akan pergi ke Shenzhen untuk shopping dan melihat Window of the World. Saya izin untuk tidak ikut rombongan. Besok pagi kami sudah harus kembali ke Indonesia, sepertinya akan terlalu melelahkan untuk Ru (15 bulan). Akhirnya saya, Bi, dan Ru memutuskan untuk mengunjungi Chi Lin Nunnery dan Nan Lian Garden, yang letaknya berseberangan. Chi Lin Nunnery adalah kuil Budha bergaya Dinasti Tan yang awalnya dibangun pada 1934, dan dibangun ulang pada tahun 1990-an. Sementara Nan Lian Garden adalah taman bergaya klasik Cina yang juga dibuat bergaya Dinasti Tan.