Langsung ke konten utama

Jahit Kebaya Hamil Di Pasar Tebet

Desember ini sahabat saya waktu kuliah dulu menikah. Yeii saya dapet seragam. Biasanya si saya jahit di tukang jahit langganan deket rumah mama. Tapi berhubung sekarang saya udah ga tinggal di rumah mama, penjahit langganan jadi jauuuhhhh sekali rasanya.

Saya pun mulai tanya sana-sini sebaiknya jahit dimana yang bagus tapi murah. Hehe banyak mau. Akhirnya berdasarkan rekomendasi seorang tante pergilah saya ke Pasar Tebet.

Walaupun dari dulu tinggal di Jakarta Selatan, saya tuh hampir ga pernah main-main ke daerah tebet. Ga gaul ya. Saya cuma tau Pasar Tebet itu ada dua, yang satu Pasar Tebet Barat, satu lagi PSPT di Tebet Timur. Si penjahit ini di Pasar Tebet Barat.

Photo by Nulis dan Mimpi


Setelah diputer-puterin supir taksi, sampai lah saya dan Bi si suami ke pasar tebet. Penjahit di pasar ini berkumpul di lantai 1. Saya pun mencari-cari plang Penjahit Mulyana rekomendasi si tante. Akhirnya ketemu juga.

"Mbak, mau jahit kebaya bisa?"
"Wah, lagi penuh tuh jahitan. Coba tanya ibu aja mbak. Ditelpon coba," jawab si mbak yang entah resepsionis atau penjahit karena dia lagi bengang-bengong aja pas saya dateng.

Saya pun menelpon ibu Mulyana.

"Halo, bu saya kalau mau jahit kebaya kira-kira paling cepet jadinya kapan ya?"
"Waaahhh, ga bisa kalo cepet-cepet," suaranya panik
"Buat sebulan lagi, ga bisa bu?"
"Waduh, gimana ya, kita lagi banyak banget order baju pramugari," suaranya tetep panik
"Yaudah deh bu, ga jadi."
"Oh yaudah," si ibu tiba-tiba mendadak tenang

Si mbak resepsionis/penjahit lalu nanya ke saya apa kata si ibu. Dengan berbaik hati, si mbak lalu merekomendasikan penjahit di dekat tokonya. Penjahit Bintang namanya.

Singkat cerita, saya akhirnya jahit di penjahit Bintang dengan berbekal gambar kebaya yang sudah saya print sebelumnya. Tiga minggu lagi jadi. Bismillah, semoga bagus.

***



Hore hore, eh Alhamdulillah maksudnya, kebaya hamil saya hasilnya ga mengecewakan. Paling ngga pas lah di badan. Gimana kalau menurut kalian? 


Moral
- Cara ke Pasar Tebet Barat: Dari arah pancoran (ke arah halim) lurus aja sampai ketemu Glael. Belok kiri pas di belokan habis Glael. Lurus aja, pasarnya di kanan jalan ga jauh dari belokan tadi.

- Selain penjahit, di Pasar Tebet Barat banyak macem-macem juga :
LANTAI LG pusatnya percetakan undangan. Hayo yang mau nikah. Tapi saya dulu ga nyetak di sini si.
LANTAI DASAR banyak jajanan pasar dan makanan. Jajanan pasarnya murah tapi rasanya biasa banget mendekati ga enak kalau menurut saya.
LANTAI 2 Ramayana

- Last but not least, Selamat menempuh hidup baru Anya Sani!

Komentar

  1. Biayanya berapaaa? ada contactnya ga ya? tahnkyou

    BalasHapus
  2. Yah maap banget saya udah ga inget berapa biayanya. Tapi ga murah-murah amat yang jelas.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlukah Insisi Tongue Tie

Ru sudah bukan bayi lagi, tapi pengalaman menjadi ibu baru dan mengurus bayi sangat membekas bagi saya. Itulah mengapa sekali-kali saya bercerita cerita lampau di sini. Siapa tahu ada ibu baru yang mengalami hal serupa dan bisa belajar dari pengalaman saya. Salah satunya adalah tentang tongue tie , salah satu hal yang sempat ditanyakan beberapa teman saya paska melahirkan. Hampir tiga tahun lalu Ru lahir di Rumah Sakit Puri Cinere. Rumah sakit ini pro ASI. Setelah melahirkan, saya dan Ru tidak hanya dikunjungi oleh dokter kandungan dan dokter anak, tapi juga dokter laktasi. Dokter spesialis menyusui datang dan memeriksa apakah cara menyusu bayi sudah benar dan adakah masalah dalam menyusui. Juga mengajarkan posisi menyusui yang benar. Benar-benar membantu karena menyusui itu ternyata tidak semudah kelihatannya. Beberapa hari setelah Ru lahir puting payudara saya lecet (maaf agak vulgar). Menurut dokter laktasi, setelah memeriksa mulut Ru, hal itu disebabkan Ru mengalami tongue ti...

Cerita Melahirkan: Operasi Caesar Kedua

“Bu, lahir sekarang ya,” kata dokter kandungan saya dengan tenang. Jujur saya dan Bi kaget. Harusnya hari ini hanya kontrol rutin 37 minggu kehamilan. Mestinya sih kami tidak kaget-kaget amat. Sebulan terakhir bu dokter memang bilang ada kemungkinan harus segera dilahirkan kalau ketuban saya di bawah batas normal. Sebab cairan ketuban saya terbilang sedikit. Tapi kami yakin dan percaya itu tidak akan terjadi. Kan saya sudah minum 3 liter air tiap hari, minum air kelapa, dan Pocari Sweat seperti saran dokter. Saya juga sudah afirmasi positif bisa lahiran normal. Kenyataannya ga semua semua yang dipercaya jadi kenyataan. ( FYI saat itu indeks cairan ketuban ( Amniotic Fluid Index ) saya 8 padahal menurut dokter kandungan saya minimal 10. Seminggu sebelumnya masih 12.  Idealnya 15, kata bu dokter)

Chi Lin Nunnery dan Nan Lian Garden (HK Special, Part 5)

Minggu, 26-07-2015 Hong Kong Special Trip  Day 5 Hari terakhir di acara jalan-jalan kali ini. Huhu. Rencananya hari ini keluarga besar saya akan pergi ke Shenzhen untuk shopping dan melihat Window of the World. Saya izin untuk tidak ikut rombongan. Besok pagi kami sudah harus kembali ke Indonesia, sepertinya akan terlalu melelahkan untuk Ru (15 bulan). Akhirnya saya, Bi, dan Ru memutuskan untuk mengunjungi Chi Lin Nunnery dan Nan Lian Garden, yang letaknya berseberangan. Chi Lin Nunnery adalah kuil Budha bergaya Dinasti Tan yang awalnya dibangun pada 1934, dan dibangun ulang pada tahun 1990-an. Sementara Nan Lian Garden adalah taman bergaya klasik Cina yang juga dibuat bergaya Dinasti Tan.