Langsung ke konten utama

Negeri Dongeng Belanda

{This post along with two previous posts are specially written for Kompetiblog 2013. It might be different from my usual posts}


Saya tersenyum ketika pertama kali membaca sebuah artikel di Internet yang berjudul Living in a Dutch Fantasy Land..” Sang penulis James D Schwarts bercerita tentang hal-hal menyenangkan yang dijumpainya di Belanda, mulai dari penduduk yang murah senyum, jalur khusus sepeda dimana-mana, dan pengendara mobil yang berhati-hati terhadap para pengendara sepeda.

“Instead of horns, I hear bells. Instead of exhaust fumes, I’m breathing in fresh, clean air – and when I arrive at my destination, there are thousands of bicycle parking spaces – mostly full, “ tulisnya.

“Just like a maximum performance carbon fiber racing bicycle can make you push yourself harder, a Dutch-style bike can help you relax a little bit.”

Saya sungguh iri, tampaknya menyenangkan bisa menggunakan sepeda sebagai transportasi sehari-hari dan bukan hanya untuk olah raga atau rekreasi.

Sepeda digunakan untuk pergi bekerja, sekolah, berbelanja, dan segala keperluan lain.

Bahan baku andalan Belanda sebenarnya hanya satu, infrastruktur bersepeda. Dengan desain yang baik, para pengendera sepeda merasa aman, nyaman, sehat, hemat, dan bisa cepat sampai ke tujuan. Inilah kisah bagaimana Belanda mendapatkan jalur sepeda mereka.


Pahlawan Negeri Dongeng Belanda
Alkisah, paska perang dunia ke dua, Belanda semakin maju. Jalan-jalan diperluas untuk menampung jumlah mobil yang meningkat tajam. Jalanan menjadi tidak bersahabat. Ratusan anak meninggal dunia akibat tertabrak mobil.

Awal tahun 1970an, muncullah jagoan pertama Belanda, organisasi Stop the Child Murderer. Organisasi ini menuntut pemerintah untuk menciptakan jalanan yang lebih aman.

Salah satu unjuk rasa Stop the Child Murderer.
(sumber: Icc)

Di saat yang sama, seorang pionir dalam bidang transportasi, Joost Vahl menciptakan Woonerf, desain jalan yang terbagi-bagi untuk pejalan kaki, sepeda, dan kendaraan bermotor. 

Organisasi Stop the Child Murderer kemudian menggandeng Steven Schepel, yang sebelumnya bekerja untuk Joost Vahl. Schepel kemudian diangkat menjadi ketua organisasi tersebut dan membawa pembagian jalan sebagai solusi. “One of the important things was that came with feasible ideas. We not only made noise at the right moment, but we demonstrated that it would possible to make streets better places,” ujarnya.

Demonstrasi besar-besaran terus dilakukan dan akhirnya berhasil didengar oleh pemerintah Belanda. Desain jalan pun kemudian diubah.

Demo pembuatan jalur sepeda di Amsterdam, 1980.
(sumber: bicycle dutch)

Desain Impian
Jalur sepeda di Belanda berhasil dibuat di penjuru negeri. Desain perempatan jalan juga ikut berubah. Seperti sihir, perempatan jalan kini menjadi aman untuk para pengendara sepeda. Desain terebut menjadi pelopor yang kini ingin diikuti oleh berbagai negeri lainnya.   

Tipikal desain jalan di Belanda.
(sumber: altaplanning)

Desain perempatan yang aman bagi pengendara sepeda. 
Salah satu fitur terpenting adalah ‘pulau’ di sudut-sudutnya.
(sumber: wiki)


Aneka gedung parkir sepeda dibangun. Beberapa didesain dengan cantik. Ada pula jembatan khusus untuk para pengendara sepeda yang baru saja dibangun dekat Eindhoven dan jalan bebas hambatan khusus sepeda.

Para pengendara juga tak perlu takut tersesat karena petunjuk jalan untuk pengendara sepeda ada dimana-mana. Juga ada tempat sampah khusus untuk para pengayuh kendaraan roda dua ini.

Atas: Tempat sampah dan jembatan khusus pengendara sepeda.
Bawah: Dua desain gedung parkir sepeda. Desain di kanan sengaja dibuat seperti apel.
Hihi, jadi ingat apel Snow White.


Dongeng tentang negeri sepeda impian tidak berhenti di sini. Berbagai rencana untuk membuatnya lebih baik terus dilakukan. Selain berencana untuk menambah jumlah tempat parkir, pemerintah juga ingin membuat jalan sepeda dengan penghangat di bawahnya untuk musim dingin. 

Kami Juga Ingin
Dalam hal bersepeda, negeri kincir ini mungkin tak berniat jadi pionir, mereka hanya ingin hidup dengan lebih baik. Namun, siapa yang tidak iri melihat ada kota modern berudara bersih dan nyaman untuk bersepeda, tampak tidak nyata seperti di Negeri dongeng. 



Referensi Lain

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlukah Insisi Tongue Tie

Ru sudah bukan bayi lagi, tapi pengalaman menjadi ibu baru dan mengurus bayi sangat membekas bagi saya. Itulah mengapa sekali-kali saya bercerita cerita lampau di sini. Siapa tahu ada ibu baru yang mengalami hal serupa dan bisa belajar dari pengalaman saya. Salah satunya adalah tentang tongue tie , salah satu hal yang sempat ditanyakan beberapa teman saya paska melahirkan. Hampir tiga tahun lalu Ru lahir di Rumah Sakit Puri Cinere. Rumah sakit ini pro ASI. Setelah melahirkan, saya dan Ru tidak hanya dikunjungi oleh dokter kandungan dan dokter anak, tapi juga dokter laktasi. Dokter spesialis menyusui datang dan memeriksa apakah cara menyusu bayi sudah benar dan adakah masalah dalam menyusui. Juga mengajarkan posisi menyusui yang benar. Benar-benar membantu karena menyusui itu ternyata tidak semudah kelihatannya. Beberapa hari setelah Ru lahir puting payudara saya lecet (maaf agak vulgar). Menurut dokter laktasi, setelah memeriksa mulut Ru, hal itu disebabkan Ru mengalami tongue ti...

Cerita Melahirkan: Operasi Caesar Kedua

“Bu, lahir sekarang ya,” kata dokter kandungan saya dengan tenang. Jujur saya dan Bi kaget. Harusnya hari ini hanya kontrol rutin 37 minggu kehamilan. Mestinya sih kami tidak kaget-kaget amat. Sebulan terakhir bu dokter memang bilang ada kemungkinan harus segera dilahirkan kalau ketuban saya di bawah batas normal. Sebab cairan ketuban saya terbilang sedikit. Tapi kami yakin dan percaya itu tidak akan terjadi. Kan saya sudah minum 3 liter air tiap hari, minum air kelapa, dan Pocari Sweat seperti saran dokter. Saya juga sudah afirmasi positif bisa lahiran normal. Kenyataannya ga semua semua yang dipercaya jadi kenyataan. ( FYI saat itu indeks cairan ketuban ( Amniotic Fluid Index ) saya 8 padahal menurut dokter kandungan saya minimal 10. Seminggu sebelumnya masih 12.  Idealnya 15, kata bu dokter)

Chi Lin Nunnery dan Nan Lian Garden (HK Special, Part 5)

Minggu, 26-07-2015 Hong Kong Special Trip  Day 5 Hari terakhir di acara jalan-jalan kali ini. Huhu. Rencananya hari ini keluarga besar saya akan pergi ke Shenzhen untuk shopping dan melihat Window of the World. Saya izin untuk tidak ikut rombongan. Besok pagi kami sudah harus kembali ke Indonesia, sepertinya akan terlalu melelahkan untuk Ru (15 bulan). Akhirnya saya, Bi, dan Ru memutuskan untuk mengunjungi Chi Lin Nunnery dan Nan Lian Garden, yang letaknya berseberangan. Chi Lin Nunnery adalah kuil Budha bergaya Dinasti Tan yang awalnya dibangun pada 1934, dan dibangun ulang pada tahun 1990-an. Sementara Nan Lian Garden adalah taman bergaya klasik Cina yang juga dibuat bergaya Dinasti Tan.