Langsung ke konten utama

#6. SG Trip - Singapore Philatelic Museum

(My Travel Series)
____________
Selasa, 26-1-2010
Singapore Museum Trip
Day 2


(Please note that this trip happened in 2010, there are probably some changes in the museum now)

Hari kedua di Singapura, juga hari terakhir. Memang kunjungan yang super singkat karena saya dan adik saya tidak sedang libur kuliah. 

Pagi-pagi sekali kami sudah check out dari hostel, the Mitra. Sengaja pagi-pagi agar punya waktu untuk foto-foto di Singapura supaya punya bukti kalau kami beneran pergi ke sini. Hehe.

Pergilah kami ke Esplenade yang tentu saja masih tutup, lalu berfoto dengan pemandangan Singapore flyers dan marina bay sands yang saat itu belum jadi. Juga sempat foto sama si singa Merlion. Panas sekali, mau meleleh rasanya. 


*** 

Akhirnya sudah agak siang, museum sudah buka tampaknya. Hari ini kami hanya akan pergi ke satu museum saja, karena takut tidak sempat dan ketinggalan pesawat.  Tujuan kami Singapore Philatelic Museum. Menurut kakak saya, museum ini seru. Yuk yuk menuju ke sana!

Sesuai namanya museum ini berisi informasi mengenai surat menyurat. Tapi juga ada beberapa area temporer dengan tema lainnya. Museum yang berada di Coleman Street ini cukup mudah ditemukan. Berhubung saya kurang pintar cerita tentang isi nya, ini saya kasih foto-fotonya aja ya, biar kebayang.

 Si ade dan sign Singapore Philatelic Museum

Saya pamer tiketnya. $6 untuk orang dewasa.

 Salah satu sudut Heritage Room. 


 Room of Rarities. Seru, bisa sok-sok an 
bawa kantong isi surat.


Purple Room. Ada capnya di dalam mulut. Hihi.


Aneka bentuk kotak surat di Purple Room. 
Pengen deh punya rumah yang ada kotak pos lucunya. 
Biar pak posnya juga terhibur. 

Ruang untuk anak-anak. Bisa pura-pura kerja di kantor pos. 
Juga ada meja untuk mewarnai.

Pemeran temporer tentang Filipina kalau ga salah. Lucu deh, 
lacinya isinya rempah-rempah, ada namanya satu-satu.


Masih di ruang pamer temporer. 
Lagi pakai kacamata 3d.


Dua foto yang nantinya keliatan jadi tiga dimensi.


Pameran temporer lainnya.


Kebetulan saya ke sini sewaktu tahun baru, jadi sedang ada pameran temporer tentang shio. Waktu itu tahun Harimau. Kerennya, bukan hanya ruang temporernya yang dihias, tapi tangga dan beberapa dindingnya dibuat gambar bekas cakaran harimau. Detail banget, salut.

Setelah semua ruang terjelajahi, jalan-jalan di museum pun selesai. Sudah dapat pencerahan, saat nya kembali ke Indonesia, mengerjakan tugas akhir supaya lulus kuliah (bagi yang belum tau, jalan-jalan ini dalam rangka survey untuk tugas akhir). Kira-kira itu yang akan saya tulis dua tahun yang lalu. Sekarang si sudah lulus. 

Moral
- Museum ini cocok sekali untuk anak-anak. Karena anak-anak bukan hanya melihat tapi bisa pegang, puter ini-itu, tarik ini itu. Interaktif lah pokoknya. Selain sangat interaktif semua ukurannya dibuat untuk anak-anak. Saya merasa segala sesuatu di museum ini kependekan. 

- Ruang untuk pameran temporer di museum ini sangat banyak. Bahkan perbandingan antara ruang permanen dan temporer sama. Jadi pamerannya sering berganti. Kalau mau berkunjung coba cek official website-nya di sini untuk tau pameran temporer apa yang sedang berlangsung.

- Bagi yang belum punya uang atau belum sempat ke Singapura tapi penasaran, silahkan liat virtual tour-nya dulu di sini.

- Karena museum ini tidak terlalu besar, menjelajahinya juga tidak butuh waktu lama. 1-2 jam sepertinya cukup.

- Untuk cara ke sana, harga, jam buka, dan lain sebagianya silahkan lihat di sini.  


Sebelumnya     >> #5. SG Trip - Peranakan Museum
Mulai dari sini  >> #1. SG Trip - Mint Museum of Toys

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlukah Insisi Tongue Tie

Ru sudah bukan bayi lagi, tapi pengalaman menjadi ibu baru dan mengurus bayi sangat membekas bagi saya. Itulah mengapa sekali-kali saya bercerita cerita lampau di sini. Siapa tahu ada ibu baru yang mengalami hal serupa dan bisa belajar dari pengalaman saya. Salah satunya adalah tentang tongue tie , salah satu hal yang sempat ditanyakan beberapa teman saya paska melahirkan. Hampir tiga tahun lalu Ru lahir di Rumah Sakit Puri Cinere. Rumah sakit ini pro ASI. Setelah melahirkan, saya dan Ru tidak hanya dikunjungi oleh dokter kandungan dan dokter anak, tapi juga dokter laktasi. Dokter spesialis menyusui datang dan memeriksa apakah cara menyusu bayi sudah benar dan adakah masalah dalam menyusui. Juga mengajarkan posisi menyusui yang benar. Benar-benar membantu karena menyusui itu ternyata tidak semudah kelihatannya. Beberapa hari setelah Ru lahir puting payudara saya lecet (maaf agak vulgar). Menurut dokter laktasi, setelah memeriksa mulut Ru, hal itu disebabkan Ru mengalami tongue ti...

Cerita Melahirkan: Operasi Caesar Kedua

“Bu, lahir sekarang ya,” kata dokter kandungan saya dengan tenang. Jujur saya dan Bi kaget. Harusnya hari ini hanya kontrol rutin 37 minggu kehamilan. Mestinya sih kami tidak kaget-kaget amat. Sebulan terakhir bu dokter memang bilang ada kemungkinan harus segera dilahirkan kalau ketuban saya di bawah batas normal. Sebab cairan ketuban saya terbilang sedikit. Tapi kami yakin dan percaya itu tidak akan terjadi. Kan saya sudah minum 3 liter air tiap hari, minum air kelapa, dan Pocari Sweat seperti saran dokter. Saya juga sudah afirmasi positif bisa lahiran normal. Kenyataannya ga semua semua yang dipercaya jadi kenyataan. ( FYI saat itu indeks cairan ketuban ( Amniotic Fluid Index ) saya 8 padahal menurut dokter kandungan saya minimal 10. Seminggu sebelumnya masih 12.  Idealnya 15, kata bu dokter)

Chi Lin Nunnery dan Nan Lian Garden (HK Special, Part 5)

Minggu, 26-07-2015 Hong Kong Special Trip  Day 5 Hari terakhir di acara jalan-jalan kali ini. Huhu. Rencananya hari ini keluarga besar saya akan pergi ke Shenzhen untuk shopping dan melihat Window of the World. Saya izin untuk tidak ikut rombongan. Besok pagi kami sudah harus kembali ke Indonesia, sepertinya akan terlalu melelahkan untuk Ru (15 bulan). Akhirnya saya, Bi, dan Ru memutuskan untuk mengunjungi Chi Lin Nunnery dan Nan Lian Garden, yang letaknya berseberangan. Chi Lin Nunnery adalah kuil Budha bergaya Dinasti Tan yang awalnya dibangun pada 1934, dan dibangun ulang pada tahun 1990-an. Sementara Nan Lian Garden adalah taman bergaya klasik Cina yang juga dibuat bergaya Dinasti Tan.