Langsung ke konten utama

#1. Hong Kong - Halo Dokter!

(My Travel Series)

Sebenernya bingung mau mulai cerita dari jalan-jalan yang kemana, berhubung dari dulu ga pernah ditulis di sini.  Tapi ya sudah, dari sini saja. Hong Kong - Singapore Trip di bulan Maret - April 2012. Kenapa ini? Ga ada alasannya si, pengen aja.

Cerita jalan-jalan biasanya memang ditulis dari hari pertama. Tapi, hari pertama acara jalan-jalan ini dihabiskan di jalan. Subuh-subuh berangkat dari rumah, lalu naik pesawat air asia, transit di Kuala Lumpur pada siang hari, dan akhirnya sampai di Hong Kong malam. Ga terlalu seru, makanya diloncat saja langsung ke hari ke dua.
___

Selasa, 27-3-2012
Hong Kong-Singpore Trip
Day 2


Pagi pertama di Hong Kong. Wiih, kemana dulu ya enaknya. Pilihan jatuh pada Anne Black General Out-Patient Clinic di North Point, Hong Kong. Hahaha. Jelas bukan pilihan wisatawan normal, tapi pilihan wisatawan yang lagi demam kayak saya.

Kemarin waktu sampai di Bandara saya distop sebelum sampai ke imigrasi gara-gara terdeteksi demam sama sensor suhu tubuh yang ada di sana. Saya pun diukur suhunya pake alat pengukur suhu yang dimasukin ke dalam telinga. 38.1 derajat celcius. Untung ga tinggi-tinggi amat. Tapi saya tetep dikasih masker dan dibawa ke sejenis klinik dan tempat isolasi. hihihi. Serem juga sebenernya. Untung setelah ditanya gejala-gejala dan riwayat perjalanan saya, si mbak suster ngebolehin saya masuk ke Hong Kong. Fiuuuhhh....

Sampe hotel saya tetep demam dan mengigil, jadilah si W rekan perjalanan sekaligus suami saya browsing klinik terdekat. hehehe. 

Anne Black General Out-Patient Clinic lumayan deket dari tempat saya nginep, Ibis Hotel. Jalan kaki pun sampai. Masuk-masuk sempet bingung harus kemana. Untung ada suster yang cekatan mendatangi kami dan membantu.

Gak kayak di Indonesia, di sini hal pertama yang dilakukan adalah daftar dan bayar. Karena saya bukan penduduk Hong Kong saya harus bayar 215 HK dollar (kursnya 1.200 rupiah, jadi sekitar Rp258.000,00). Kalau orang lokal cukup bayar $45 saja. Biaya ini sudah termasuk biaya dokter dan obat.

Saya lalu ditimbang dan diukur tingginya. Lalu, self-service menensi darah di alat yang sudah disediakan. Nanti keluar kertas berisi hasilnya gitu. Cool banget. *norak. 

Dari sana, saya ketemu suster di satu ruang khusus. Si suster nanya-nanya tentang data diri dan keluhan-keluhannya. Juga dibuatin buku riwayat penyakit yang (kayaknya) bisa dipake di setiap rumah sakit karena datanya dimasukin secara online. Bukunya gratis dan boleh dibawa pulang.

Kekerenan lainnya, si suster udah tau kira-kira jam berapa saya akan dipanggil ketemu dokter dari urutan antrian yang lumayan ramai. Saya disuruh jalan-jalan dulu dan balik lagi di jam yang telah ditentukan. Tapi begitu tau saya demam, mbak suster langsung mempersilahkan saya duduk di tempat duduk khusus.

"Pasien yang demam diprioritaskan, jadi kamu bakal lebih cepet dipanggil," kata mbak suster pake bahasa Inggris yang lumayan jelas.

Saya (bermasker) duduk di tempat duduk khusus

Gak lama, saya pun masuk ke ruang dokter. Bu dokter lalu buka data di komputernya tentang saya. Nanya-nanya saya keluhannya apa. Lalu memeriksa saya sedikit. Semua data pemeriksaan ini langsung dimasukin ke komputer. Saya ga papa kalau kata bu dokter. Karena beberapa hari sebelumnya saya nginjek paku payung, saya pun nanya apa mungkin saya demam gara-gara itu. Ngga katanya. Tapi buat jaga-jaga dia akan minta suster bersihin lukanya.

Selesai dari dokter saya disuruh ke apotik untuk ngambil obat. Lalu ke ruang lain lagi untuk bersihin luka yang sebenernya cuma setitik. Tadinya berniat kabur karena antriannya kayaknya lama. Tapi mbak suster yang super berdedikasi ngeliatin saya terus sambil bilang, 'tunggu ya'. Hehe ga jadi kabur deh.

Di sana luka saya diobatin. Mbak suster yang ngebersihin awalnya mengira saya ke dokter di Hong Kong cuma gara-gara luka setitik. Hahahaha. Keren banget masa ketusuk paku payung aja berobatnya ke Hong Kong. Setelah dibersihin dia menyarankan saya buat balik lagi besok untuk dibersihin lagi. Biayanya $70 kalo besok dateng. Saya ga dateng lagi.


Moral
Pelayanan kesehatan di Hong Kong super menyenangkan menurut saya. Suster-susternya super helpful dan ramah. Kalau ada yang perlu daftar klinik di Hong Kong dan info lainnya bisa diliat di sini.

Lain kali saya juga kayaknya harus beli travel insurance sebelum pergi ke luar negeri, terutama yang negaranya mahal biaya hidupnya.

Selanjutnya >> #2. Hong Kong - Octopus Card

Komentar

  1. kikiiiiiiiiiiiiiiiiii...sungguh iri..tapi canggih banget ya disana. ko pas baca jadi ngebayangin gitu.. jauh banget sama indonesia ya...
    happy honeymoon kiky :)
    terus cerita cerita yaaa...

    BalasHapus
  2. hehehe iyaa terima kasiih.. :) oke!

    BalasHapus
  3. untuk kereta gantung ocean park emang hrs berhenti sebentar untuk penumpang menikmati pemandangan ato foto sesaat!tidak usah takut.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlukah Insisi Tongue Tie

Ru sudah bukan bayi lagi, tapi pengalaman menjadi ibu baru dan mengurus bayi sangat membekas bagi saya. Itulah mengapa sekali-kali saya bercerita cerita lampau di sini. Siapa tahu ada ibu baru yang mengalami hal serupa dan bisa belajar dari pengalaman saya. Salah satunya adalah tentang tongue tie , salah satu hal yang sempat ditanyakan beberapa teman saya paska melahirkan. Hampir tiga tahun lalu Ru lahir di Rumah Sakit Puri Cinere. Rumah sakit ini pro ASI. Setelah melahirkan, saya dan Ru tidak hanya dikunjungi oleh dokter kandungan dan dokter anak, tapi juga dokter laktasi. Dokter spesialis menyusui datang dan memeriksa apakah cara menyusu bayi sudah benar dan adakah masalah dalam menyusui. Juga mengajarkan posisi menyusui yang benar. Benar-benar membantu karena menyusui itu ternyata tidak semudah kelihatannya. Beberapa hari setelah Ru lahir puting payudara saya lecet (maaf agak vulgar). Menurut dokter laktasi, setelah memeriksa mulut Ru, hal itu disebabkan Ru mengalami tongue ti...

Cerita Melahirkan: Operasi Caesar Kedua

“Bu, lahir sekarang ya,” kata dokter kandungan saya dengan tenang. Jujur saya dan Bi kaget. Harusnya hari ini hanya kontrol rutin 37 minggu kehamilan. Mestinya sih kami tidak kaget-kaget amat. Sebulan terakhir bu dokter memang bilang ada kemungkinan harus segera dilahirkan kalau ketuban saya di bawah batas normal. Sebab cairan ketuban saya terbilang sedikit. Tapi kami yakin dan percaya itu tidak akan terjadi. Kan saya sudah minum 3 liter air tiap hari, minum air kelapa, dan Pocari Sweat seperti saran dokter. Saya juga sudah afirmasi positif bisa lahiran normal. Kenyataannya ga semua semua yang dipercaya jadi kenyataan. ( FYI saat itu indeks cairan ketuban ( Amniotic Fluid Index ) saya 8 padahal menurut dokter kandungan saya minimal 10. Seminggu sebelumnya masih 12.  Idealnya 15, kata bu dokter)

Chi Lin Nunnery dan Nan Lian Garden (HK Special, Part 5)

Minggu, 26-07-2015 Hong Kong Special Trip  Day 5 Hari terakhir di acara jalan-jalan kali ini. Huhu. Rencananya hari ini keluarga besar saya akan pergi ke Shenzhen untuk shopping dan melihat Window of the World. Saya izin untuk tidak ikut rombongan. Besok pagi kami sudah harus kembali ke Indonesia, sepertinya akan terlalu melelahkan untuk Ru (15 bulan). Akhirnya saya, Bi, dan Ru memutuskan untuk mengunjungi Chi Lin Nunnery dan Nan Lian Garden, yang letaknya berseberangan. Chi Lin Nunnery adalah kuil Budha bergaya Dinasti Tan yang awalnya dibangun pada 1934, dan dibangun ulang pada tahun 1990-an. Sementara Nan Lian Garden adalah taman bergaya klasik Cina yang juga dibuat bergaya Dinasti Tan.