Langsung ke konten utama

Weekend Klasik: Ragunan & Ancol

Jadi ya, sejak punya anak gaya hidup saya berubah cukup banyak. Dari yang ga pernah masak jadi masak tiap hari. Dari yang hobinya nonton Running Man dan drama korea jadi lebih sering nonton baby tv dan acara bayi lainnya di youtube. Acara jalan-jalan juga ikutan berubah.

Sejak Ru bisa jalan cukup lancar (13 bulan) pilhan tempat wisata langsung bertambah. Plus sekarang dia juga udah ngerti macem-macem. Yeiii, saatnya jalan-jalan. Sebagai pemanasan, saya dan Bi ga mau pergi yang jauh-jauh dulu. Repot. Jadilah weekend kami tujuannya klasik: Ragunan dan Ancol.

Ragunan
Ini sih deket rumah. Jadi niatnya kasih liat Ru binatang sekalian jalan pagi. Biar agak rame kami ngajak mama, papa, dan Freya, sepupunya Ru.

Ragunan ya gitu aja kan dari dulu. Tiket masuknya murah meriah, dalemnya biasa, dan lumayan ramai. Positifnya, banyak pohon dan ada area-area sepi untuk menghirup udara segar.

Sampai sekarang Ru udah dua kali ke Ragunan. Dia senang lihat gajah, rusa, dan zebra. Sayangnya jerapah udah ga ada, kayaknya mati deh.




Ancol
Saatnya mengajak Ru main pasir dan liat laut. Jalan-jalan yang ini terinspirasi teman kantor saya Shanda dan kakak Saya. Mereka sama-sama bawa anaknya main di pantai Ancol. Ayo lah saya juga ikutan.

Jam 6 pagi kami berangkat dari rumah supaya belum ramai. Tujuannya ke pantai pasir putih belakang Ancol Mall. Sampai sana sejam kemudian. Ga terlalu ramai. Ru senang sekali. Dia langsung teriak-teriak ketawa-tawa pas ketika sampai. Hihihihi.

Awalnya saya ga ngebolehin main air. Soalnya laut Ancol kan polusi. Tapi tanpa izin saya, Bi dan Ru jadinya main air karena Ru rewel pengen main sekop pasir punya anak-anak lain, jadi dialihkan dengan main air. Wih, senengnya juga luar biasa. 




Sebelum pulang Ru bilas badan dulu di tempat bilas persis belakang toilet.Tempat bilasnya tersembunyi dan ga ada tulisan apapun. 

Oiya, pantai pasir putihnya lagi digedein lo. 

Lain waktu ke pantai beneran ya Ru.


Moral
- Ragunan dan Ancol ga menarik sih untuk saya, tapi ternyata Ru senang sekali. Ga perlu mahal ternyata bikin senang Anak.

- Punya anak tuh live changing situation banget saudara-saudara.

Komentar

  1. ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬
    Udah lama banget nggak ke dua tempat itu.
    Jadi pengen kesana setelah lihat foto-foto ini.
    ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlukah Insisi Tongue Tie

Ru sudah bukan bayi lagi, tapi pengalaman menjadi ibu baru dan mengurus bayi sangat membekas bagi saya. Itulah mengapa sekali-kali saya bercerita cerita lampau di sini. Siapa tahu ada ibu baru yang mengalami hal serupa dan bisa belajar dari pengalaman saya. Salah satunya adalah tentang tongue tie , salah satu hal yang sempat ditanyakan beberapa teman saya paska melahirkan. Hampir tiga tahun lalu Ru lahir di Rumah Sakit Puri Cinere. Rumah sakit ini pro ASI. Setelah melahirkan, saya dan Ru tidak hanya dikunjungi oleh dokter kandungan dan dokter anak, tapi juga dokter laktasi. Dokter spesialis menyusui datang dan memeriksa apakah cara menyusu bayi sudah benar dan adakah masalah dalam menyusui. Juga mengajarkan posisi menyusui yang benar. Benar-benar membantu karena menyusui itu ternyata tidak semudah kelihatannya. Beberapa hari setelah Ru lahir puting payudara saya lecet (maaf agak vulgar). Menurut dokter laktasi, setelah memeriksa mulut Ru, hal itu disebabkan Ru mengalami tongue ti...

Cerita Melahirkan: Operasi Caesar Kedua

“Bu, lahir sekarang ya,” kata dokter kandungan saya dengan tenang. Jujur saya dan Bi kaget. Harusnya hari ini hanya kontrol rutin 37 minggu kehamilan. Mestinya sih kami tidak kaget-kaget amat. Sebulan terakhir bu dokter memang bilang ada kemungkinan harus segera dilahirkan kalau ketuban saya di bawah batas normal. Sebab cairan ketuban saya terbilang sedikit. Tapi kami yakin dan percaya itu tidak akan terjadi. Kan saya sudah minum 3 liter air tiap hari, minum air kelapa, dan Pocari Sweat seperti saran dokter. Saya juga sudah afirmasi positif bisa lahiran normal. Kenyataannya ga semua semua yang dipercaya jadi kenyataan. ( FYI saat itu indeks cairan ketuban ( Amniotic Fluid Index ) saya 8 padahal menurut dokter kandungan saya minimal 10. Seminggu sebelumnya masih 12.  Idealnya 15, kata bu dokter)

Chi Lin Nunnery dan Nan Lian Garden (HK Special, Part 5)

Minggu, 26-07-2015 Hong Kong Special Trip  Day 5 Hari terakhir di acara jalan-jalan kali ini. Huhu. Rencananya hari ini keluarga besar saya akan pergi ke Shenzhen untuk shopping dan melihat Window of the World. Saya izin untuk tidak ikut rombongan. Besok pagi kami sudah harus kembali ke Indonesia, sepertinya akan terlalu melelahkan untuk Ru (15 bulan). Akhirnya saya, Bi, dan Ru memutuskan untuk mengunjungi Chi Lin Nunnery dan Nan Lian Garden, yang letaknya berseberangan. Chi Lin Nunnery adalah kuil Budha bergaya Dinasti Tan yang awalnya dibangun pada 1934, dan dibangun ulang pada tahun 1990-an. Sementara Nan Lian Garden adalah taman bergaya klasik Cina yang juga dibuat bergaya Dinasti Tan.