Langsung ke konten utama

Akhir Pekan: Bersepeda di Kota Tua

Nulis bahasa inggrisnya istirahat dulu ya. Lagi ga pengen mikir.

Jadi beberapa minggu yang lalu, saya dan Bi si suami jalan-jalan ke kota tua. Soalnya lagi bosen sama yang namanya mal. Dari tempat tinggal kami ke kota lumayan mudah, setengah jam saja dengan kereta.

Setelah jalan-jalan di Museum Bank Mandiri dan Museum  Bank Indonesia, saya dan Bi pergi ke Museum Fatahillah. Nah, di depannya ada banyak sepeda ontel yang disewakan beserta properti topi belanda. Hmm, tertarik, tapi masih agak panas. Sambil menunggu matahari mulai turun, kami jalan-jalan dulu di dalam museum.


"Berapa bang?" tanya si Bi setelah kami keluar dari museum.
"Kalau keliling-keling di lapangan sini aja setengah jam 15 ribu, kalau ke luar sepuasnya 40 ribu,"
"Boleh satu sepeda berdua apa harus satu-satu?" tanya saya
"Boleh neng goncengan"

Kami pun memutuskan untuk sewa satu sepeda keluar lapangan Fatahillah, rutenya : Toko merah - Jembatan Kota Intan - Museum Bahari - Pelabuhan Sunda Kelapa. Kita ga pake guide karena kata bapaknya tempatnya deket-deket plus ga tau juga kalo pake guide harus ngasih berapa lagi. haha.

Satu kata tentang jalan-jalan naik sepeda di rute itu : NGERI. Gimana ga serem, pertama karena ga ada jalur sepeda -- jadi naik sepedanya di jalan raya yang ramai, kedua, sepedanya ga punya kaca spion, dan ketiga jalanannya bukan jalan biasa yang isinya kebanyakan mobil tapi jalanan penuh truk, tronton, dan truk molen. Hiiii... Untung boncengan, kalo saya naik sendiri mah langsung puter balik ga jadi.

Tentunya kami ga lupa foto-foto, bukti kalau berhasil naik sepeda dengan tingkat kesulitan maksimum. 





Dua manusia kucel, setelah naik sepeda lumayan lama

Moral

- Kalau yang masih sayang sama nyawa mendingan ga usah naik sepeda keliling daerah kota tua. Kecuali kalau nanti pak Jokowi dan Ahok bikin jalan khusus sepeda yang aman. Tapi, kalau emang suka yang menantang maut monggo dicoba.

- Kalau penasaran banget pengen coba mungkin bisa pake guide, walaupun saya ga jamin guidenya bisa melindungi kalian dari truk-truk yang ukurannya 10x ukuran badannya. Hehe.

- Walaupun semua moralnya kesannya negatif, tapi saya sebenernya seneng-seneng aja kok jalan-jalan kali ini. Hehe. Walaupun ga mau lagi, tapi pengalaman pertama emang selalu seru kan. ;)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlukah Insisi Tongue Tie

Ru sudah bukan bayi lagi, tapi pengalaman menjadi ibu baru dan mengurus bayi sangat membekas bagi saya. Itulah mengapa sekali-kali saya bercerita cerita lampau di sini. Siapa tahu ada ibu baru yang mengalami hal serupa dan bisa belajar dari pengalaman saya. Salah satunya adalah tentang tongue tie , salah satu hal yang sempat ditanyakan beberapa teman saya paska melahirkan. Hampir tiga tahun lalu Ru lahir di Rumah Sakit Puri Cinere. Rumah sakit ini pro ASI. Setelah melahirkan, saya dan Ru tidak hanya dikunjungi oleh dokter kandungan dan dokter anak, tapi juga dokter laktasi. Dokter spesialis menyusui datang dan memeriksa apakah cara menyusu bayi sudah benar dan adakah masalah dalam menyusui. Juga mengajarkan posisi menyusui yang benar. Benar-benar membantu karena menyusui itu ternyata tidak semudah kelihatannya. Beberapa hari setelah Ru lahir puting payudara saya lecet (maaf agak vulgar). Menurut dokter laktasi, setelah memeriksa mulut Ru, hal itu disebabkan Ru mengalami tongue ti...

Cerita Melahirkan: Operasi Caesar Kedua

“Bu, lahir sekarang ya,” kata dokter kandungan saya dengan tenang. Jujur saya dan Bi kaget. Harusnya hari ini hanya kontrol rutin 37 minggu kehamilan. Mestinya sih kami tidak kaget-kaget amat. Sebulan terakhir bu dokter memang bilang ada kemungkinan harus segera dilahirkan kalau ketuban saya di bawah batas normal. Sebab cairan ketuban saya terbilang sedikit. Tapi kami yakin dan percaya itu tidak akan terjadi. Kan saya sudah minum 3 liter air tiap hari, minum air kelapa, dan Pocari Sweat seperti saran dokter. Saya juga sudah afirmasi positif bisa lahiran normal. Kenyataannya ga semua semua yang dipercaya jadi kenyataan. ( FYI saat itu indeks cairan ketuban ( Amniotic Fluid Index ) saya 8 padahal menurut dokter kandungan saya minimal 10. Seminggu sebelumnya masih 12.  Idealnya 15, kata bu dokter)

Chi Lin Nunnery dan Nan Lian Garden (HK Special, Part 5)

Minggu, 26-07-2015 Hong Kong Special Trip  Day 5 Hari terakhir di acara jalan-jalan kali ini. Huhu. Rencananya hari ini keluarga besar saya akan pergi ke Shenzhen untuk shopping dan melihat Window of the World. Saya izin untuk tidak ikut rombongan. Besok pagi kami sudah harus kembali ke Indonesia, sepertinya akan terlalu melelahkan untuk Ru (15 bulan). Akhirnya saya, Bi, dan Ru memutuskan untuk mengunjungi Chi Lin Nunnery dan Nan Lian Garden, yang letaknya berseberangan. Chi Lin Nunnery adalah kuil Budha bergaya Dinasti Tan yang awalnya dibangun pada 1934, dan dibangun ulang pada tahun 1990-an. Sementara Nan Lian Garden adalah taman bergaya klasik Cina yang juga dibuat bergaya Dinasti Tan.