Langsung ke konten utama

Cita.Cita.

Cita-cita. Kata ulang yang saya tidak pernah pikirkan dengan benar. Kalau pertanyaannya apa yang saya mau, saya bisa jawab dengan mudah. (walaupun mungkin berjam-jam ga selese-selese). Tapi kalau cita-cita, hmmm.. pertanyaan yang agak sulit tampaknya.

Waktu saya masuk SMA, saya pengen jadi desainer. Ga inget dari mana saya bisa punya keinginan itu. Curiganya si gara-gara kebanyakan nonton discovery travel and living. Tapi sebenernya saya juga pengen jadi tour guide, jadi translator, jadi penulis, jadi penulis skenario, dan jadi interpreter.

Kebodohan berikutnya adalah saya ga pernah bener-bener mikir kalau kuliah itu menentukan karier yang akan ditempuh seseorang. Jadi saya kuliah desain, tapi saya tetep berharap bisa jadi tour guide, jadi translator, jadi penulis, jadi penulis skenario, atau jadi interpreter.

Kalau menurut ramalan garis tangan, saya nyaris ga punya garis karir. Hmm... jangan-jangan gara-gara saya bahkan ga tau mau jadi apa.

Tapi berhubung instruktur yoga mama saya lulusan kedokteran gigi, pemilik sekaligus direktur sekolah adek spupu saya lulusan teknik sipil, temen kakak saya yang pramugari lulusan desain interior, dan guru agama SMA saya lulusan ekonomi, saya rasa saya (dan semua orang yang tidak serius dalam memilih jurusan di kuliahnya) akan baik-baik saja. Hehehehe..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Museum Kata, Belitung

Sebuah rumah warna-warni menyambut kami di pinggir jalan sepi itu. "Fiction is the new power" tertulis di sana. Menarik, pikir saya. Museum Kata ternyata lebih besar dari kelihatannya. Di dalamnya berisi tentang perjalanan Laskar Pelangi, juga tentang berbagai hal lainnya seperti tentang Belitung dan literatur dunia. Untuk pertama kalinya saya tidak terganggu dengan banyaknya tulisan yang tertempel di dinding. Biasanya museum dengan banyak tulisan dan sedikit interaksi dengan benda pamer membuat saya bosan. Namun museum ini membuat saya merasa membaca buku tiga dimensi. Saya mengagumi Andrea Hirata. Seseorang dari di pulau kecil tapi cerdas, mampu menulis dengan baik, sukses memperkenalkan kampung halamannya, dan meningkatkan perekonomian daerah asalnya lewat pariwisata. Gara-gara Laskar Pelangi Belitung lebih terkenal daripada pulau tetangganya, Bangka. Padahal pantai di Bangka juga sama cantiknya.

Playground: Kidzoona, AEON, BSD

Libur pemilu kemarin Ru main di AEON BSD sama sepupu-sepupunya, Freya dan Cleo. Tiba-tiba ke AEON karena uyutnya Ru yang lagi jalan-jalan ke sana dan pasti seneng kalau cicitnya ikut gabung. Akhirnya tiga bocah itu dibolehin main di playground karena bingung juga mau ngapain. Mainnya di Kidzoona, supaya eyang uyut bisa nontonin dari luar. Kalau Playtime dan Miniapolis tertutup jadi ga bisa dilihat anaknya lagi main apa. Kidzoona ada di dalam department store AEON bagian anak-anak di lantai 2. Tepatnya berada di ujung paling dalam. Harga Tiket dan Member Untuk main di sini ada dua pilihan waktu: 1 jam atau satu hari. Biayanya 80 ribu untuk satu jam dan 130 ribu untuk satu hari pada weekend atau hari libur. Sementara di hari kerja biayanya 50 ribu dan 80 ribu saja. Saran saya jangan pilih tiket satu hari kalau weekend . Selain mahal, playground -nya ramai.

#5. SG Trip - Peranakan Museum

( My Travel Series ) _____________ Senin, 25-1-2010 Singapore Museum Trip Day 1 (Please note that this trip happened in 2010, there are probably some changes in the museum now) Mengunjungi Museum Peranakan setelah  National Museum of Singapore  adalah suatu kesalahan. Pertama, energi saya sudah terkuras cukup banyak paska keliling-keliling di museum nasional yang sungguh besar itu. Kedua, Setelah melihat museum besar dan sangat 'wah', Museum Peranakan jadi terlihat kecil dan biasa saja. Padahal Museum Peranakan ini sebenarnya menarik. Museum Peranakan ini berisi tentang warga keturunan yang lahir di Singapura. Bagaimana ya menjelaskannya, intinya tentang beragam suku bangsa yang datang dan kemudian membangun keluarga di Singapura, asal-usul penduduk Singapura. Untuk lebih jelasnya, ini saya kasih sedikit preview lewat foto. Silahkan. Di luar Museum Peranakan Kiri: Saya sedang mendengarkan penjelasan via head phone. // Kanan: Si Ade dengan telpon k...