Langsung ke konten utama

Cerita ke Eropa - Prolog


Tahun lalu saya nekat beli tiket pesawat promo Jakarta - Amsterdam PP untuk sekeluarga dengan tanggal keberangkatan hampir satu tahun kemudian. Nekat karena belinya ga pake mikir uang di tabungan cukup atau ngga. 

Kebetulan kakak saya lagi sekolah di Leiden, Belanda, jadi saya pikir kalaupun uangnya ga cukup ya saya nginep aja di rumah kakak selama di Eropa dan gausah ke negara-negara Eropa lain. Juga mumpung anak kedua saya belum dua tahun, jadi tidak perlu beli tiket pesawat sendiri. 

Siapa sangka beberapa bulan kemudian kakak saya tiba-tiba bilang dia hamil dan akan kembali ke Indonesia sebelum tanggal keberangkatan saya. Kabar buruknya, karena pulang terlalu lama apartemen yang sekarang ia tinggali harus berenti disewa, yang artinya saya ga punya akomodasi gratis lagi.

Tiket pesawat tidak bisa refund karena tiket promo. Tiket pulang pergi saya beli untuk musim panas selama dua minggu, yang mana musim panas adalah masa di mana semua akomodasi harganya dua kali lipat. Jadi anggaplah biaya akomodasi permalam 1,5 juta, dikali empat belas hari, sama dengan 21 juta. Dari gratis jadi 21 juta! Waktu sadar akan fakta ini saya langsung sakit kepala, kalau sekarang sih pasrah, ya udah lewat.


Akhirnya selama hampir setahun saya sibuk browsing-browsing segala hal tentang Eropa dan gimana caranya supaya pengeluarannya bisa seminimal mungkin. Selain budget saya juga harus mikir apa tempatnya menarik untuk semua anggota keluarga dan cocok untuk anak-anak atau tidak. 

Selama hampir setahun itinerary nya dirombak berkali-kali dan hasil akhirnya ga sedetail yang saya mau. Ternyata bikin itinerary detail selama dua minggu itu capek banget. Saya tuh sampai mikir ini mau liburan kenapa malah effort-nya besar banget ya. Nanti saya tulis terpisah ya tentang itinerary.

______

Kalau saya jalan-jalannya versi hemat, di tanggal yang sama, keluarga besar saya juga akan jalan-jalan ke Eropa dengan jasa travel. Keluarga besar itu eyang, mama, papa, tante, om, dan sepupu. Mereka juga sama, pengen ke Belanda untuk menengok kakak saya dan anak-anaknya yang ternyata malah pulang pas didatengin. Haha

Saya sengaja memisahkan diri karena menurut saya akan melelahkan pergi dengan tur dan rombongan kalau membawa anak umur lima dan satu tahun. Kalau pergi sendiri kalau capek bisa leyeh-leyeh di penginapan saja, kalau dengan rombongan mana bisa. Itinerary saya dan keluarga besar berbeda, tapi kami akan bertemu di Belanda pada hari kedua dan ke-13.

Di hari ke-13 saya berada di Rotterdam, Belanda sementara rombongan keluarga besar ada di Brugge, Belgia. Rencananya hari itu rombongan akan ke Rotterdam dan kami akan bertemu. Namun dini hari saya mendapat telpon, mengabarkan eyang uti saya meninggal di Brugge. Meninggal tiba-tiba. Hari itu saya tidak menyusul ke Belgia karena semua serba tidak jelas.

Besoknya saya kembali ke Indonesia. Rombongan keluarga besar pulang sehari setelah saya. Jenazah eyang uti baru dikirim pulang empat hari kemudian.

______

Setelah pulang, selama seminggu saya sibuk tahlilan dan pemakaman. Lalu saya tidak ingat lagi perasaan 12 hari di Eropa sebelum eyang meninggal. 

Ketika sibuk bikin rencana untuk jalan-jalan ke Eropa saya bertekad saya akan cerita banyak di blog, supaya paling ngga usaha saya untuk perjalan ke Eropa manfaatnya agak lebih banyak dan ga untuk diri sendiri aja. Saya juga berniat untuk langsung banyak bercerita setelah pulang. Kenyataannya saya terlalu sedih untuk semua itu. Tapi sekarang, setelah lima bulan berlalu saya merasa sudah bisa bercerita lagi. 

Tulisan pembuka ini mungkin tak banyak manfaatnya untuk yang sedang cari informasi, tapi saya ingin tetap menuliskannya. Tulisan ini mungkin lebih banyak manfaatnya untuk saya dari pada kamu, tapi terima kasih sudah membaca. :)

Moral, Tips, & Trik

-Manusia hanya bisa berencana, tuhan yang menentukan. Siapa sangka kakak saya hamil dan siapa sangka eyang uti meninggal dalam perjalanan ini.

- Untuk saya dan Bi 14 hari jalan-jalan sama anak itu terlalu lama. Kayaknya pasnya 10-12 hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlukah Insisi Tongue Tie

Ru sudah bukan bayi lagi, tapi pengalaman menjadi ibu baru dan mengurus bayi sangat membekas bagi saya. Itulah mengapa sekali-kali saya bercerita cerita lampau di sini. Siapa tahu ada ibu baru yang mengalami hal serupa dan bisa belajar dari pengalaman saya. Salah satunya adalah tentang tongue tie , salah satu hal yang sempat ditanyakan beberapa teman saya paska melahirkan. Hampir tiga tahun lalu Ru lahir di Rumah Sakit Puri Cinere. Rumah sakit ini pro ASI. Setelah melahirkan, saya dan Ru tidak hanya dikunjungi oleh dokter kandungan dan dokter anak, tapi juga dokter laktasi. Dokter spesialis menyusui datang dan memeriksa apakah cara menyusu bayi sudah benar dan adakah masalah dalam menyusui. Juga mengajarkan posisi menyusui yang benar. Benar-benar membantu karena menyusui itu ternyata tidak semudah kelihatannya. Beberapa hari setelah Ru lahir puting payudara saya lecet (maaf agak vulgar). Menurut dokter laktasi, setelah memeriksa mulut Ru, hal itu disebabkan Ru mengalami tongue ti...

Cerita Melahirkan: Operasi Caesar Kedua

“Bu, lahir sekarang ya,” kata dokter kandungan saya dengan tenang. Jujur saya dan Bi kaget. Harusnya hari ini hanya kontrol rutin 37 minggu kehamilan. Mestinya sih kami tidak kaget-kaget amat. Sebulan terakhir bu dokter memang bilang ada kemungkinan harus segera dilahirkan kalau ketuban saya di bawah batas normal. Sebab cairan ketuban saya terbilang sedikit. Tapi kami yakin dan percaya itu tidak akan terjadi. Kan saya sudah minum 3 liter air tiap hari, minum air kelapa, dan Pocari Sweat seperti saran dokter. Saya juga sudah afirmasi positif bisa lahiran normal. Kenyataannya ga semua semua yang dipercaya jadi kenyataan. ( FYI saat itu indeks cairan ketuban ( Amniotic Fluid Index ) saya 8 padahal menurut dokter kandungan saya minimal 10. Seminggu sebelumnya masih 12.  Idealnya 15, kata bu dokter)

Chi Lin Nunnery dan Nan Lian Garden (HK Special, Part 5)

Minggu, 26-07-2015 Hong Kong Special Trip  Day 5 Hari terakhir di acara jalan-jalan kali ini. Huhu. Rencananya hari ini keluarga besar saya akan pergi ke Shenzhen untuk shopping dan melihat Window of the World. Saya izin untuk tidak ikut rombongan. Besok pagi kami sudah harus kembali ke Indonesia, sepertinya akan terlalu melelahkan untuk Ru (15 bulan). Akhirnya saya, Bi, dan Ru memutuskan untuk mengunjungi Chi Lin Nunnery dan Nan Lian Garden, yang letaknya berseberangan. Chi Lin Nunnery adalah kuil Budha bergaya Dinasti Tan yang awalnya dibangun pada 1934, dan dibangun ulang pada tahun 1990-an. Sementara Nan Lian Garden adalah taman bergaya klasik Cina yang juga dibuat bergaya Dinasti Tan.