Langsung ke konten utama

Pidi Baiq

Hari minggu. Pengennya leyeh-leyeh karena besok sudah kerja lagi. Karena indovision saya dibajak TVRI (baca: semua channel berubah jadi TVRI) akhirnya saya nonton TV biasa. TV lokal maksudnya. Jadilah saya nonton stand up comedy di kompas TV. Bukan karena saya kerja di kompas gramedia, tapi karena ade saya yang pilih channel-nya. Ga tau kenapa saya ga ketawa. Entah karena selera humor saya yang rendah atau emang mereka ga lucu. Tapi kakak adek saya juga ga ketawa, jadi mungkin kesalahannya ada pada si acara TV.

Padahal siang ini saya lagi pengen ketawa. Karena gagal, saya kecewa, tapi ga berat si. Tiba-tiba saya inget sama Pidi Baiq. Iya, Pidi Baiq si penulis buku drunken monster dan teman-temannya. Jadi saya buka blognya. This is it! *ngomong ala chef Farah Quin

Singkat cerita, saya baca dan berhasil ketawa. Bukan cuma ketawa, tapi jadi sadar kalau saya ini terlalu serius. Terlalu serius sama hidup. Padahal menurut Al-Quran aja hidup di dunia ini adalah senda gurau. Selain terlalu serius kayaknya saya ini juga terlalu normal, padahal kayaknya seru juga jadi orang aneh kayak Pidi Baiq. Walaupun setiap baca ceritanya saya suka ragu akan kebenarannya. Tapi karena kata pak guru agama kita gak boleh suudzon, ya sudah saya pilih untuk percaya saja.

Sekian tulisan saya kali ini. Mungkin ga ada fungsinya buat kamu, mungkin juga ada, tapi semoga ada. Yang jelas saya senang bisa nulis suka-suka pake bahasa ngaco-ngaco tanpa takut diedit sama editor, atau takut menyesatkan pembaca. Oiya, kalau kamu gatau apa itu buku drunken monster dan kawan-kawannya ini saya kasih fotonya.


Komentar

  1. tapi gw ketawa nonton stand up comedy, ki. Ya walaupun hanya beberapa kontestan berhasil bikin gw ketawa. tp entah kenapa setiap nonton acara komedi, gw akan memulainya dengan senyum. mungki gw harapan gw untuk tertawa terlalu besar kali ya.
    begitu juga kalo baca tulisan2nya pidi baiq, gw pasti akan memulainya dengan senyum. dengan begitu, akan lebih mudah tertawa.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlukah Insisi Tongue Tie

Ru sudah bukan bayi lagi, tapi pengalaman menjadi ibu baru dan mengurus bayi sangat membekas bagi saya. Itulah mengapa sekali-kali saya bercerita cerita lampau di sini. Siapa tahu ada ibu baru yang mengalami hal serupa dan bisa belajar dari pengalaman saya. Salah satunya adalah tentang tongue tie , salah satu hal yang sempat ditanyakan beberapa teman saya paska melahirkan. Hampir tiga tahun lalu Ru lahir di Rumah Sakit Puri Cinere. Rumah sakit ini pro ASI. Setelah melahirkan, saya dan Ru tidak hanya dikunjungi oleh dokter kandungan dan dokter anak, tapi juga dokter laktasi. Dokter spesialis menyusui datang dan memeriksa apakah cara menyusu bayi sudah benar dan adakah masalah dalam menyusui. Juga mengajarkan posisi menyusui yang benar. Benar-benar membantu karena menyusui itu ternyata tidak semudah kelihatannya. Beberapa hari setelah Ru lahir puting payudara saya lecet (maaf agak vulgar). Menurut dokter laktasi, setelah memeriksa mulut Ru, hal itu disebabkan Ru mengalami tongue ti...

Belanja Mainan Murah di Korea

Dongdaemun Stationery and Toys Alley, Seoul, Korea Sesuai namanya tempat belanja di daerah Dongdaemun ini menjual alat tulis dan mainan yang katanya murah. Sebagai orang tua sayang anak, saya dan Bi, suami saya, menyempatkan berkunjung ke sini dalam kunjungan singkat kami ke Seoul. Lokasinya tak jauh dari pintu keluar subway . Waaah senang sekali melihat pasar yang isinya cuma alat tulis dan mainan aneka rupa.

Syarat Naik Pesawat saat Hamil

Dua minggu yang lalu saya dan keluarga jalan-jalan ke Belitung (lagi). Ini pertama kalinya saya naik pesawat saat hamil. Di kehamilan pertama saya gagal ke Bangkok dan tiket saya hangus karena tidak dapat izin dokter. Waktu itu memang kehamilan saya masih di trimester pertama Syarat naik pesawat untuk ibu hamil berbeda-beda di tiap maskapai. Namun trimester kedua kehamilan adalah waktu yang paling aman untuk terbang. Sriwijaya Air Untuk ke Belitung saya naik pesawat Sriwijaya air. Usia kehamilan saya saat itu 26 minggu. Syarat naik Sriwijaya air bagi ibu hamil di website adalah sebagai berikut: - Pregnancy maximum 32 week. - Submission of an approved doctor's medical certificate required. - Must sign statement letter that has been provided at the branch office or airport. Saya pun membawa surat dokter yang saya minta saat USG 4D dua hari sebelum keberangkatan. Di bandara saya diminta menunjukkan surat tersebut dan menandatangani surat perjanjian bahwa maska...